Tuesday, April 9, 2013

Mustafa, Musdalifah, Tutik, Adam, dan Pak Eko

Masih terbawa dengan aura kegelapan yang dibawa oleh Pak Hukum, Mustafa dan Musdalifah sangat enggan untuk mengikuti pembekalan perekonomian hari ini. Bahkan sejak pagi aura kegelapan Pak Hukum membuat mereka berdua malas untuk bekerja, tidak dapat berkonsentrasi, dan terasa lemas badannya.

Tetapi logika memberikan kekuatan untuk terus berjuang melalui rintangan cinta Mustafa - Musdalifah yang bernama kewajiban birokrasi rohaniah. Dan tibalah mereka di ruangan bersama dengan Tutik dan Adam yang seperti biasa datang terlambat, serta seorang yang kita sebut saja Pak Eko, bukan nama sebenarnya. Pak Eko berusia menjelang 50, dengan tiga orang anak yang dari ceritanya tiga-tiganya cukup bandel, seorang istri yang juga dari ceritanya cukup tegas dan banyak berlogika. Tingkah laku Pak Eko yang banyak tertawa dan seru membuat Mustafa dan Musdalifah lega cukup lega karena sepertinya kali ini akan menyenangkan.


Mustafa membayangkan akan sangat sulit apabila membicarakan ekonomi dengan dasar alkitab, karena ilmu-ilmu ekonomi sepertinya mental apabila dibawa ke ranah kristiani. Penasaran hati Mustafa membayangkan bagaimana Pak Eko akan membekali. Selalu ada dasar alkitab, maka Pak Eko memberikan ayat yang menyatakan kalau sebenarnya kebutuhan manusia sudah tersedia dan disediakan, hanya tinggal bagaimana manusia mengelolanya. Nah, bagaimana manusia mengelolanya itulah yang nantinya dinamakan ekonomi. 


Metode yang diberikan Pak Eko ya semacam standar gitu. Jadi awalnya adalah membuat daftar segala kebutuhan rumah tangga selama satu bulan, kemudian menjatahkan sesuai dengan pemasukan keluarga. Nah, kalau sudah seperti itu, jika ada pembengkakan pengeluaran, nanti tinggal disubsidi silang. Semisal Mustafa menjatahkan pengeluaran untuk jajan kopi sebesar Rp 1.000.000,- dan untuk membeli makan Rp 500.000, terus suatu ketika Mustafa ingin membeli kopi di Surabaya, nah, kan ongkos untuk ke Surabaya mahal tuh, membengkaklah pengeluaran jajan kopi menjadi sebesar Rp 1.500.000,-. Nah, bagaimana mengatasinya? ya tinggal tutupi saja dengan jatah makan. Jadi Mustafa tidak bisa membeli makan, cukup minum kopi saja sehari-harinya. 


Kelemahan dari metode itu adalah kedisiplinan. Diperlukan kedisiplinan yang luar biasa untuk menjalankan metode itu, dan Mustafa sudah mencoba beberapa kali, tetapi gagal. Ya sudah. Tetapi yang menarik bukan metodenya, melainkan yang berperan dalam merencanakan pengeluaran dan pemasukan untuk membuat daftar kebutuhan rumah tangga. Pak Eko menegaskan bahwa tidak ada ayat yang menganggap tabu suami turut serta mengatur rumah tangga. Bahkan dia menunjukkan artikel yang menegaskan kalau di kehidupan sosial masyarakat era modern ini pun banyak suami yang juga ikut memomong anak. Nah, metode pengelolaan keuangan yang standar tadi itu akan berhasil apabila diatur oleh dua orang. Semisal Mustafa mau jajan kopi di Surabaya, Musdalifah bisa mengingatkannya kalau duid buat jajan kopi sudah habis dan menyarankan agar Mustafa minum susu saja supaya sehat dan langsung tidur tak memikirkan jajan ini jajan itu.


Pak Eko ini lebih banyak membekali Mustafa dan Musdalifah dengan kejadian yang sesuai dengan pengaplikasian di dunia nyata dan berdasarkan pengalaman dia. Jika Mustafa ada yang tidak setuju, Pak Eko juga tidak mempermasalahkan, toh itu apa yang dialami Pak Eko, kalau pengalaman Mustafa berbeda ya sah-sah saja. Terlebih lagi karena pendapat mereka berdua tidak akan bertentangan dengan ajaran agama. 


Sebelum pembekalan bubar, Pak Eko memberikan questioner yang harus diisi oleh Mustafa dan Musdalifah tentang rumah impian, mobil impian, pengaturan rumah tangga impian, sampai dengan anak impian. Tentunya akan banyak berbeda, dan tentu saja rumah impian Mustafa dan Musdalifah berbeda, karena Mustafa ingin rumahnya berwarna kelabu dan kamar mandinya berwarna hitam, dan Musdalifah tidak menginginkan itu. Mobil pun seperti itu. Hanya saja ketika membicarakan pengaturan rumah tangga dan anak impian, Mustafa dan Musdalifah sudah cucok. Rasanya sangat menyenangkan. 


Akhirnya kelas dibubarkan. Sebelum berdoa penutupan, ditanyakan apakah ada pertanyaan atau tidak, dan tentu saja Mustafa dan Musdalifah yang ingin segera meninggalkan ruangan itu tidak memberikan pertanyaan. Jika pun ada pertanyaan mereka lebih memilih googling saja nantinya. Tetapi seperti biasa, Tutik dan Adam tidak pernah dengan mudah menghentikan pencitraan mereka untuk tampak antusias, sehingga pertanyaan pun mereka keluarkan. Ya, tentunya Mustafa dan Musdalifah menganggap pertanyaannya tidak penting, tetapi siapa tau penting bagi Tutik dan Adam. Okelah!


Nilai penolakan dari Mustafa dan Musdalifah terhadap semua yang dinilai absurd memang sangat besar, dan itu menunjukkan betapa egoisnya mereka terhadap dunia mereka sendiri. Mereka pun sadar ketika dunia yang lebih besar akan memberikan banyak penolakan terhadap mereka, dan pastinya penolakan yang mereka terima akan lebih besar lagi. Tetapi selama mereka bersama, semua orang akan berpikir kalau Mustafa dan Musdalifah akan baik-baik saja. 


  

kitchen-design-tips.com

Monday, April 8, 2013

Mustafa, Musdalifah, Adam, Tutik, dan Pak Hukum

Mustafa dan Musdalifah gembira karena mereka berdua akan mendapatkan pembekalan dari gereja perihal hukum dalam rumah tangga dari seorang praktisi hukum bersama dengan pasangan lain yang juga ingin membekalkan diri. Tetapi ternyata hal tersebut jauh lebih buruk daripada pembekalan hari sebelumya.

Sesampai di ruang pembekalan, Mustafa dan Musdalifah sudah ditunggu oleh yang akan mengajari mereka, sebut saja Pak Hukum, berambut putih, berwajah keras, dengan luka bekas operasi di bawah lehernya. Sungguh menyeramkan. Mustafa seketika merasakan bahwa pembekalan hari ini akan sangat berat. Tetapi Mustafa masih berharap pada pasangan lain yang akan ikut serta. Berharap mereka adalah pasangan yang seru dimana Mustafa dan Musdalifah bisa berhaha-hihi bersama mereka membicarakan Pak Pendeta dan orang lain. Tetapi ketika pasangan ini muncul, sebut saja Tutik dan Adam, harapan Mustafa sekali lagi sirna. 


Ini akan menjadi sangat buruk.


Aura mencekam dikeluarkan oleh Pak Hukum seketika dia memulai pembekalan. Seketika Pak Hukum menunjuk Tutik untuk memimpin doa untuk memulai pembekalan. Mustafa dan Musdalifah pucat pasi, membayangkan bagaimana bila salah satu dari mereka yang ditunjuk saat itu. Dan sepanjang pembekalan, mereka khawatir apabila ditunjuk menjadi pemimpin doa penutupan. Ah, sungguh mencekam sekali. 


Satu hari sebelum pertemuan ini, Pak Hukum sudah memberikan modul untuk mempersiapkan materi hukum hari ini, sebanyak 20 halaman. Pak Hukum berharap Mustafa dan Musdalifah sudah membacanya di rumah sehingga saat kelas berlangsung, mereka berdua tinggal bertanya saja. Tetapi tentu saja itu tidak mungkin. 20 halaman. Bahkan saat misa paskah pun Mustafa tidak bisa melewati halaman 7 dari buku misa yang disiapkan, dan kini, dipaksa membaca 20 halaman modul hukum. Tanpa ada gambar kelinci yang lucu atau kucing yang berlompatan di padang gurun. 20 halaman murni teks semua. Tak dapat dipercaya!


Akhirnya Pak Hukum memimpin membaca modul tersebut. Dan benar-benar membaca. Ketika Mustafa bertanya tentang sesuatu yang mengganggu Mustafa, Pak Hukum menjawab dengan wajah garangnya, singkat, dan kemudian meminta para peserta agar tidak bertanya terlebih dahulu, biarkan Pak Hukum membacakan modul. Mustafa sudah bersungut-sungut dengan sikap Pak Hukum. Tidak ada yang namanya keterbukaan diskusi. Mustafa hanya perlu mendengarkan dan mencerna semua yang diberikan oleh Pak Hukum, dan itulah yang benar. Padahal saat itu baru halaman 7. Masih ada 13 halaman lagi bagi Mustafa untuk bersungut-sungut.


Di sela-sela Pak Hukum menjelaskan, dia meminta Mustafa membaca ayat alkitab. Mustafa membaca dengan cepat, jelas, dan tegas. Kemudian giliran Musdalifah yang diminta membaca. Musdalifah pun membaca dengan cepat, jelas, dan tegas. Ketika sampai pada giliran Tutik, dia membacanya dengan pelan sekali, berusaha terdengar indah, jelas, dan menenangkan. Mustafa semakin naik pitam. Mustafa merasakan panas di kepalanya.Untungnya saat giliran Adam, dia bisa membaca lebih cepat daripada Tutik. Ngah!


Dan pembacaan modul berlangsung lama sampai habis. Mustafa, Musdalifah, Tutik, dan Adam hanya bisa diam saja tidak ada yang berani berkomentar. Sampai akhirnya habis, Pak Hukum meminta para peserta ini bertanya, karena jika tidak bertanya, maka dia yang akan bertanya. hal seperti ini banyak terjadi di dalam kehidupan rohani Mustafa, dan Mustafa biasa menyebutnya dengan "ancaman". Bahkan ajaran yang dia terima pun kebanyakan berisi ancaman, "jika kamu melakukan ini, kamu akan berdosa. Jika kamu melakukan ini, kamu tidak akan diberkati. Jika kamu melakukan ini kamu akan masuk neraka. Jika kamu begini dst, dst, dst". Semua berisi ancaman, dan kebiasaan tersebut membuat ancaman Pak Hukum tidak menggentarkan Mustafa. Mustafa tidak perduli, dia merasa tidak ada yang perlu ditanyakan dan ingin segera meninggalkan ruangan itu, jadi dia tidak bertanya. Begitu pula dengan Mustafa.


Tetapi ancaman Pak Hukum benar-benar terjadi. Dia bertanya pada Mustafa! Dan pertanyaannya seputar harta! menyebalkan sekali. Saat Mustafa tampak gelagapan, Pak Hukum tersenyum dengan puas. Mustafa merasakan tubuhnya memanas. Tidak ingin bernasib sama seperti Mustafa, Tutik bertanya pada Pak Hukum. begitu pula dengan Adam. Jelas sekali mereka membuat-buat pertanyaan. karena pertanyaannya tidak ada hubungannya dengan hukum dan gereja. Penjilat keparat.


Setelah menjawab pertanyaan Adam dan Tutik, Pak Hukum meminta agar kami tidak mencari-cari pertanyaan apabila memang tidak ada pertanyaan. Segera setelah itu dia menutup sesi kali ini, dengan menunjuk Mustafa sebagai pemimpin doa. Nah, ini dia. Saatnya Mustafa mengeluarkan kemampuan ndobosnya dan menyusun supaya terdengar seperti seorang pendeta yang sedang berdoa. Ya sudah, dengan gelagapan dan panik, Mustafa memimpin doa. Dan itu menutup kelas kali ini. 


Sebenarnya Mustafa tidak begitu khawatir apabila diminta memimpin doa, karena Mustafa sudah tau unsur apa saja yang ada di dalam doa umatnya, sementara Musdalifah adalah seorang Public Relation handal yang lihai memainkan kata-kata. Jadi apabila salah satu dari Mustafa atau Musdalifah memimpin doa, sudah dapat dipastikan tidak akan terlalu mengecewakan. 


Keparat! Mustafa naik pitam.


ehow.com

Mustafa, Musdalifah, dan Puskesmas

Selain gereja, ternyata ada juga satu intitusi lagi yang perlu dihadapi oleh Mustafa dan Musdalifah, yaitu sebuah lembaga pelayanan masyarakat bernama Puskesmas.

Puskesmas ini adalah lembaga yang akan membimbing calon suami-istri agar hidup di jalan yang sehat menurut pemerintah negara Indonesia. Mustafa kemudian juga melihat sistem yang berjalan di Puskesmas adalah gambaran sistem yang terjadi di hampir semua lembaga pemerintah. Carut - marut, iri - dengki, tipu muslihat, kebanggaan menjadi pelayan negara yang berlebihan, dan desain komunikasi visual yang buruk.


Musdalifah sengaja mengambil hari libur dari pekerjaannya, atau dengan kata lain membolos kerja, untuk menyelesaikan urusan puskesmas ini, yaitu meminta surat keterangan sehat. Jika urusan puskesmas dikerjaan sepulang kerja, artinya puskesmasnya sudah keburu tutup.  Yaiyalah, ternyata jam kerja Puskesmas itu pukul 8 pagi - 1 siang (dan jam 12 siang sudah tidak menerima pendaftaran pasien lagi). Alternatifnya adalah meminta surat keterangan sehat di rumah sakit umum, karena buka sampai malam sekali (atau bahkan tengah malam). Jalur alternatif tersebut sudah dilakukan oleh pasangan Mustafa-Musdalifah, tetapi sayang sekali surat keterangan dari rumah sakit ternyata tidak dianggap sah oleh pemerintah negara kita, sehingga mengharuskan pasangan ini untuk berkunjung ke Puskesmas.


Musdalifah sudah sampai ke Puskesmas pukul 8 pagi, dan ternyata suasana sudah menegangkan. Penuh sesak dengan orang-orang yang berwajah lemas dan pucat yang juga ingin diperiksa. Sialnya, pukul 8 setiba Musdalifah sampai di Puskesmas, ternyata petugasnya belum juga lengkap, sehingga pemeriksaan belum ada yang berjalan. Kursi untuk menunggu  pun sudah penuh terisi oleh orang yang datang terlebih dahulu, sehingga Musdalifah yang malang hanya bisa berdiri menanti petugas Puskesmas. Untungnya ruang tunggu Puskesmas adalah ruang tanpa asap rokok, jadi tidak ada aroma tembakau yang menutupi aroma keringat orang-orang yang tergesa di pagi hari. Dengan orang berwajah lemas sebanyak itu, Musdalifah mendadak berwajah pucat dan merasakan lapar yang sangat, sehingga wajahnya yang awalnya bersemangat mendadak lemas.    


Setelah semua siap dan Puskesmas mulai berjalan, Musdalifah dikejutkan lagi oleh berita bahwa untuk surat keterangan sehat yang diminta, Musdalifah juga harus membawa serta Mustafa. Ini gawat sekali, karena kalau pagi hari Mustafa terbiasa untuk berdoa dan memuji Tuhan, sehingga dia tidak bisa mendengar bahwa Musdalifah membutuhkannya. Tetapi berkat kecerdikan yang dibekali oleh kedua orangtuanya, Musdalifah meninggalkan pesan singkat di telepon genggam Mustafa agar bisa dibaca oleh Mustafa seusai dia beribadah dan memuji Tuhan.


Sementara menunggu kehadiran Mustafa, Musdalifah yang tidak ingin membuang waktu, segera test darah dan test urine. Dari test darah dan test urine itu keluarlah rumus-rumus yang nanti akan dihitung oleh dokter gizi. Tetapi test darah dan test urine ini tidak ada kata gagal, dalam artian tidak perlu dikhawatirkan ndak bisa dapat surat kesehatan. paling-paling yang bakal menjadi sandungan ketika ternyata dari test urine itu ditemukan janin atau dari test darah ditemukan virus HIV, nah, kalau gitu baru dah masalah. tetapi semasalah-masalah apapun, selalu bisa dicari jalan keluar. Kalau ditemukan janin di dalam rahim Musdalifah, maka Musdalifah harus diwawancarai oleh pihak Puskesmas perihal penyebab hamil, apakah ada pemerkosaan dari pria dewasa yang cabul dan keji sehingga terpaksa memutuskan untuk menikah. Kalau misalnya di dalam darah Musdalifah ditemukan virus HIV, maka Musdalifah pun harus diwawancari lagi, kira-kira ketularannya kenapa, kalau dari jarum tattoo bakal ditanya juga tattoo dimana terus kapan kejadiannya, yang melakukan siapa. Begitulah kira-kira.


Setelah test urine dan test darah itu selesai, akhirnya Mustafa yang gagah seperti kuda jantan itu akhirnya datang juga. Mustafa, lengkap dengan pakaian kerja yang seperti kekecilan dan kancing di bagian perutnya hampir koyak karena perutnya maju dan pakaiannya slim fit. Begitu melihat keadaan Puskesmas yang ramai penuh sesak dan bukan ruangan yang bisa diperbolehkan untuk merokok, maka pucatlah Mustafa, wajahnya lemas, dan lapar perutnya seketika. Sehinga kuda jantan yang seperti digambarkan itu kemudian berubah menjadi rusa yang malu-malu dengan tanduk yang belum tumbuh.


Yang dilakukan setiba Mustafa dan Musdalifah adalah memeriksa tekanan darah, dan tentu saja mereka harus melakukannya diantara himpitan orang-orang yang berjuang sejak pagi bersama Musdalifah. Dan hal tersebut berjalan lancar dan tidak memakan waktu lama. Hanya kemudian mereka menunggu sesaat untuk dibawa ke psikolog. Nah, ini. Mustafa tidak pernah menyukai psikolog sejak dia dibawa oleh kedua orangtuanya ke psikolog sewaktu Mustafa kecil masih duduk di bangku sekolah. Orangtuanya berfikir Mustafa terlalu banyak melamun, sementara psikolog berfikir kalau Mustafa terlalu banyak berimajinasi, sementara Mustafa berfikir kalau tidak ada yang mengenal diri Mustafa selain Mustafa sendiri.


Ya, semuanya tetap harus dilakukan, dan Mustafa bersama Musdalifah diantar oleh perawat menuju ruang psikolog. Pintu ruangannya terbuka, tertempel tulisan "sedang ada konseling" atau semacamnya yang menunjukkan kalau di ruangan itu sedang berlangsung aktifitas psikologi. Dan ternyata setelah Mustafa melongok ke dalam ruangan, kosong melompong. Akhirnya Mustafa dan Musdalifah menunggu sesaat. Tidak sampai 10 menit, datanglah psikolog muda yang dengan senyum ramah dan tanpa merasa bersalah karena telah membuat sepasang rusa yang sedang kasmaran ini menunggu.


Yang dilakukan oleh psikolog adalah bertanya tentang visi - misi pernikahan Mustafa-Musdalifah. Dengan susah payah dan berat hati tentu saja Mustafa menahan tawa. Sayangnya psikolog tampak serius dengan pertanyaannya, sehingga Mustafa pun menjawab bahwa visinya adalah untuk membangun sebuah keluarga. Nah, sungguh absurd sekali visi Mustafa-Musdalifah, bahkan ternyata keluarga pun adalah sebuah lembaga masyarakat yang harus memiliki visi dan misi tertentu. tetapi Mustafa tidak bisa meremehkan visi ini, karena menurut psikolog keluarga yang tidak mempunyai visi akan terancam kelangsungan hidupnya. Ya walaupun visi juga bisa saja dikarang-karang terus, dan pskilog bisa apa kalau ternyata Mustafa pun mengarang visinya.


Setelah membicarakan visi, kemudian psikolog membicarakan tentang HIV. Pemerintah berjuang dengan keras supaya penyebaran HIV bisa dihentikan, dan penyuluhan seperti yang diberikan oleh psikolog ini sebenarnya sangat membantu.Tentang bagaimana pentingnya penggunaan kondom dan membaca tanda-tanda jika kita bersinggungan dengan hal-hal yang dapat mengakibatkan penyebaran virus HIV.


Di akhir pertemuan, bu psikolog ini menyatakan kekagumannya pada bagaimana gereja benar-benar mempersiapkan calon pengantin agar tidak ada perceraian, karena seperti penyebaran HIV, tingkat perceraian di Sleman juga termasuk yang nomer wahid di DIY dan di Indonesia. Bu Psikolog pun juga menyayangkan karena pemerintah tidak cukup memberikan perhatian pada persiapan  pra-nikah bagi pemula, dan sebanyak apapun bu psikolog membicarakan pernikahan, tetap saja dia merasa gagal membangun indonesia yang bebas cerai. lha!


Nah, setelah sesi Psikolog selesai, Mustafa dan Musdalifah dibawa pada seorang ahli gizi yang menjelaskan tentang bagaimana caranya menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar. Dia memberikan tips kombinasi makanan yang baik agar tidak  mudah lemas dan terus semangat bekerja. Kombinasi makanan ini diberikan tidak sembarangan, tetapi si ahli gizi melihat dari hasil darah Musdalifah sehingga kombinasi makanannya menyesuaikan dari kondisi tubuh Musdalifah. Luar biasa, bukan, Puskesmas jaman sekarang ini.


Terakhir adalah bertemu dengan dokter puskesmas yang berhak mengeluarkan surat keterangan sehat. Dia bertanya kenapa harus datang ke rumah sakit umum dulu daripada ke Puskesmas, biayanya berapa, terus diapain aja. ya semacam itulah. Ya jelas, kalau Puskesmas bukak sampai larut malam sih pasti Mustafa-Musdalifah bakalan datang ke Puskesmas, alih-alih ke rumah sakit umum. lha ini, pas Mustafa baru mau makan siang saja, Puskesmas sudah tutup. ini bagemana sik? Dan tentang biaya itu, Musdalifah dan Mustafa sepakat kalau Pak Dokter ini tak rela jika ada warga yang memilih rumah sakit daripada Puskesmas. Awwww, come on!


Pak Dokter pun tidak menjelaskan apa-apa atau membekali apa-apa. Hanya bertanya apakah ada garis darah tinggi dan diabetes. Kemudian kami diperiksa jantungnya, diperiksa matanya, dan sudah. Tidak ada keterangan dari dia yang menjelaskan hasil dari periksa mata dan periksa jantung. Diam saja! Mustafa dan Musdalifah pun enggan bertanya tentang hasilnya, karena mereka berdua melihat si dokter adalah tipe dokter yang merasa tahu semua hal dan akan merasa bangga sekali jika ada orang yang tidak tahu menahu bertanya padanya. Dan tentu saja karena Mustafa dan Musdalifah juga pasangan culas, mereka berdua tidak akan memberikan kepuasan pada dokter yang tidak mereka sukai. 


Pada akhirnya dapat juga surat keterangan sehat yang perlu dilegalisir oleh bagian administrasi di pintu depan. Dan selesai sudah. Sungguh melelahkan dan melaparkan. Pukul 8 pagi Musdalifah sudah sampai Puskesmas dan baru pukul 11 siang selesai semua urusan. Walaupun lelah, Mustafa dan Musdalifah kagum dengan kepedulian pemerintah terhadap pasangan muda yang ingin menikah dan membekalinya dengan banyak sekali ilmu. Syukurlah pemerintah sudah memikirkan sistem yang sangat membantu, tinggal eksekutornya saja yang diperbaiki. Bu Psikolog okelah, membantu banget, begitupula dengan Bu Ahli Gizi, tetapi tidak dengan Pak Dokternya. 



* * *

Dari semua hal tentang Puskesmas, poster yang terpampang di ruangan Psikolog ini adalah yang paling menarik hati Mustafa. Kok ya bisa-bisanya ada iklan orang payungan pakai kondom begitu, dan mungkin juga model yang ada di poster itu tidak akan pernah datang lagi ke Puskesmas. Dan Bu Psikolog kok ya betah-betahnya memajang poster kaya begini di ruangannya. Sungguh, hanya Freud saja yang sepertinya mampu memahami apa yang ada di benak Bu Psikolog. 
(desainernya siapa, sihhhhh?)

Thursday, April 4, 2013

Mustafa, Musdalifah, Pendeta, dan Teh Sosro


Hari kedua mendapat bekal pernikahan, Mustafa dan Musdalifah bersiasat untuk membuat suasana menjadi tidak kaku… dan gagal!

Sebelum meluncur menuju gereja tempat sepasang rusa yang sedang kasmaran ini diberikan pengarahan tentang pernikahan, Mustafa singgah sebentar ke sebuah mini market yang cukup gaul untuk membeli teh sosro dingin. Ya, belajar dari hari sebelumnya yang membuat mereka dehidrasi karena durasi yang lama dan suasana tegang yang mencekam, maka mereka menyiapkan minuman. 

Mendahului doa pembuka pengarahan mereka, Musdalifah menawarkan Pendeta minuman tersebut. Pendeta dengan rambut polemnya yang berminyak menerima teh sosro dengan tersipu dan mengucapkan terima kasih. Kemudian beliau langsung memanjatkan doa pembukaan dan diteruskan dengan membicarakan topik pada hari itu, yaitu tanggung jawab gereja terhadap keluarga.

Teh sosro tidak disentuh.

Gereja ternyata bertanggung jawab pada umatnya secara penuh. Bertanggung jawab yang dimaksud di sini adalah memberikan pelayanan spiritual pada umatnya. Contohnya seperti apa yang dilakukan oleh Mustafa dan Musdalifah, gereja memberikan pelayanan untuk mempersiapkan supaya rumah tangga mereka tetap harmonis dan menyenangkan di kemudian hari. *sebenarnya tidak disebutkan tentang menyenangkan sih*. Lalu bisa juga ketika Mustafa nantinya minta didoakan, gereja akan senang hati melayaninya. Lalu kalau nanti semisal rumah tangga Mustafa dan Musdalifah dinilai berantakan, sering berantem, tidak tampak harmonis, suram, atau aura kegelapan menyelimuti rumah tangga mereka, gereja akan dengan senang hati proaktif memperbaiki rumah tangga tersebut supaya seturut dengan jalan Tuhan yang diterjemahkan oleh gereja sebagaimana rupa.

Teh sosro masih tidak disentuh.

Tetapi tentu saja gereja juga tidak melulu melayani saja tanpa dilayani. Sebagai bentuk tanggung jawab umat Kristiani terhadap gereja, Mustafa dan Musdalifah nantinya juga harus melayani gereja. Bentuknya seperti apa? Ya bisa saja nanti Mustafa aktif di kursi pengurus gereja, ikut rapat dan membuat supaya gereja mereka semakin oke nantinya, ramai dan aktif. Atau bisa saja Musdalifah nantinya mengurusi sekolah minggu yang penuh dengan anak-anak kecil yang berisik dan susah diatur. Atau semisal nanti mereka berdua memberikan pelayanan ke lapas-lapas yang penuh dengan orang yang lebih bermasalah daripada mereka berdua untuk memberikan pelayanan doa supaya jiwa-jiwa yang bermasalah itu ditobatkan.

Kenapa Mustafa dan Musdalifah harus memberikan pelayanan pada gereja juga? Karena di dalam kitab suci tertulis kalau manusia sudah seharusnya menjadi garam dan terang dunia. Garam yang asin dan terang yang benderang. Kalau garam tidak asin tentu saja tidak ada gunanya, hanya bagaikan mengelutak kerikil saja nantinya. Kalau terang yang tidak benderang dikhawatirkan nanti menjadi seperti lampu delman yang pernah dinaiki Suzana dan Bang Bokir…hiiiiiiii…suram!

Teh sosro masih tidak disentuh.

Nah, Pendeta kami ini sungguh nyentrik, karena di saat memberikan pengarahan supaya Mustafa dan Musdalifah tahu persis bagaimana mereka seharusnya bersikap, dia sering tidak menyelesaikan kalimatnya dan menginginkan Mustafa dan Musdalifah yang aktif mencari kosakata yang tepat. Mustafa sering kali salah tanggap dan menganggap seperti kuis cari kata. Ketika jawaban Mustafa salah, dia akan dengan cepat memberikan jawaban yang lainnya. Masih salah lagi, maka Mustafa tidak putus asa, semakin menggebu-gebu untuk menjawab sampai benar. Tentu saja ketika jawabannya benar – sesuai dengan apa yang diinginkan pak pendeta, Mustafa langsung memasang ancang-ancang untuk tos dengan Musdalifah. Sayangnya Musdalifah melihat kelakuan Mustafa yang tampak gagal tanggap justru semakin cemberut wajahnya.

Teh sosro masih tidak disentuh.

Nah, di ujung sesi, Mustafa dan Musdalifah merasakan lapar yang cukup dahsyat di sekitaran perut mereka. Sungguh tak dapat dihindari lagi, mereka berdua terpaksa membuat daftar makanan yang ingin mereka santap sepulangnya dari gereja. Dan memikirkan itu ternyata sangat membantu sekali. Tak disangka ujung sesi benar-benar sampai pada ujungnya, dan pendeta pun menutupnya dengan doa.

Akhirnya teh sosro disentuh juga oleh pendeta, dan Mustafa serta Musdalifah baru berani menyeruput juga. 

jakartadailyphoto.com

Tuesday, April 2, 2013

Mustafa, Musdalifah, Pendeta, dan ubur-ubur

Ketika Mustafa sudah menambatkan hatinya pada Musdalifah, maka Mustafa secara tidak langsung sudah harus siap menghadapi seorang pemuka agama yang disebut dengan pendeta. 

Hanya ada Mustafa dan Musdalifah di hadapan pendeta dalam satu ruangan. Ketika sudah bertemu dengan pendeta tentu saja yang dibicarakan adalah kehidupan kristiani yang berdasarkan pada alkitab dan segala penafsirannya. Tentang bagaimana mereka berdua dijodohkan oleh Tuhan dan menyikapinya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sang comblang. 


Awalnya tentang nenek moyang yaitu Adam dan Hawa. Kemudian bagaimana pria dan wanita sudah seharusnya hidup berdampingan tanpa ada yang menjadi kepala bagi satu dan lain. Karena wanita diambil dari tulang rusuk sang pria, bukan dari tengkorak atau tulang jempol kaki. Tuhan sepertinya sudah memikirkan bagaimana manusia menafsirkan asal muasal itu, karena kalau wanita diambil dari tengkorak, manusia akan berfikir kalau wanita yang harusnya memimpin sang pria. Kebalikannya, kalau wanita diambil dari tulang jempol kaki, maka wanita yang akan menjadi bawahan bagi si pria. Maka dari itu, manusia seharusnya hidup berdampingan. 


Dan kenapa pula pria dan wanita harus hidup berpasangan? karena itu baik. Jadi ternyata di alkitab itu tertulis kalau hidup bepasangan, pria - wanita, adalah hal yang baik. Sama seperti makhluk hidup lain yang diciptakan sebelum manusia. Tidak perlu diperdebatkan siapa yang menentukan baik atau tidak ini, karena semua sudah tertulis di alkitab. Mustafa membayangkan ubur-ubur jantan dan ubur-ubur betina dan pastinya sudah saling mengenali mana yang jantan dan mana yang betina, saling jatuh cinta dan kemudian berhubungan  seksual sehingga melahirkan keturunan. Pastinya ubur-ubur betina tidak diambil dari tulang rusuk si ubur-ubur jantan.


Kemudian perbincangan berlanjut pada perzinahan. Perzinahan itu bukan berarti berhubungan seksual dengan pasangan milik orang lain. Mustafa nantinya ketika sudah menikah juga bisa saja melakukan perzinahan dengan Musdalifah. kok bisa? ya bisa! Karena perzinahan ternyata juga termasuk ketika "begituan" tetapi hanya mementingkan hawa nafsu, semisal Mustafa seorang, tanpa ada rasa ingin berbagi kasih sayang. Setelah perzinahan, biasanya berujung pada perceraian. Nah, perceraian pertama kali yang dicatat dalam alkitab adalah perzinahan anaknya Musa. Dan Musa menentangnya. tetapi apa mau dikata, Musa sudah terlanjur melihat keteguhan hati sang anak untuk bercerai, akhirnya dia memutuskan kalau mau bercerai ya harus mengajukan surat yang sah. Mungkin ini yang pada zaman non alkitab harus ada persidangan secara hukum dan secara agama kalau mau bercerai. 


Yang menarik adalah pesan kalau Mustafa dan Musdalifah sebaiknya tidak memendam perasaan takut satu sama lain. Semisal nih, Mustafa pengen banget beli ubur-ubur elektrik dalam akuarium yang harganya mahal, tetapi Mustafa tau kalau Musdalifah pastilah tidak akan mengizinkan. Nah, karena takut kena semprot Musdalifah, alih-alih berkata jujur Mustafa memilih membeli dan menitipkan ubur-ubur elektrik tersebut di rumah seorang janda sebelah rumah supaya mudah jika Mustafa ingin melihat ubur-ubur kesayangannya. Padahal seperti itu tidak boleh. Mustafa dan Musdalifah seharusnya saling telanjang dan terbuka apa adanya. tidak perlu malu jika bertelanjang, karena dari telanjang itu, Mustafa dan Musdalifah artinya sudah sepakat untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.


Dan boleh saling bertelanjang ketika sudah menikah. "Kalau belum menikah sudah bertelanjang dulu, boleh ndak, pak pendeta? supaya ndak kebacut nantinya..." Pertanyaan itu tentu saja tidak dikeluarkan oleh Mustafa saat berhadapan dengan pendeta. Rusak nanti reputasi sepasang rusa yang sedang kasmaran itu nantinya. 


Dan sayang sekali, Mustafa juga tidak merasakan menemukan contoh konkrit yang menunjukkan sikap saling telanjang diantara suami-istri. Kebanyakan suami atau istri cenderung ingin menjaga perasaan pasangannya agar tidak terluka atau kecewa, dan itu yang membuat seseorang terlihat takut dan tidak jujur. Suami-Istri yang tidak telanjang terlalu banyak ditemukan di kehidupan Mustafa. Dan itu yang membuat Mustafa dan Musdalifah berjanjian untuk selalu saling telanjang. ehhhh...!


 

Mungkin hanya ubur-ubur saja yang selalu bertelanjang.

wallfloweronline.com


Wednesday, February 20, 2013

Sehat Indonesia!

Indonesia, negara tempat Mustafa tinggal, akan mengadakan satu lagi pesta bernama pesta demokrasi. Mungkin tidak sebesar pesta di tahun 2014 nanti, tetapi PILGUB ini bolehlah untuk pemanasan kehidupan demokrasi di negaranya seperti apa sih. Nah, yang lagi santer nih PILGUB untuk daerah Jawa Barat, dan quick count sampai saat tulisan ini dipublikasikan oleh Mustafa menyatakan kalau posisi tiga teratas adalah calon yang melibatkan pesohor / mantan pesohor.

Rata-rata calon gubernur ini masih terbawa semangat Jokowi-Ahok yang sudah lebih dulu duduk di kursi pemerintahan DKI Jakarta sebagai gubernur. Metode pendekatan secara langsung tentunya, disertai dengan peluh yang mereka tunjukkan pada media sebagai alat untuk menarik simpati. Program yang mereka janjikan apabila terpilih pun ada yang mirip, di sini yang menjadi perhatian Mustafa adalah kartu sehat untuk masyarakat. Kesibukan Mustafa membuatnya tidak mengerti siapa yang nanti akan mendapatkan kartu sehat, apakah seluruh warga, atau hanya dari golongan yang dilabeli sebagai golongan tak mampu saja. Kalau hanya untuk golongan tertentu saja, artinya program ini masihlah program bobrok!

Menurut Undang-undang yang menyatakan kalau negara memelihara seluruh warga negaranya, maka sudah selayaknya negara menjamin kesehatan warganya pulak. Kalau ndak dijamin kesehatannya ya melanggar Undang-undang dong namanya. Lha Mustafa saja dipelihara oleh ayahnya yang menjamin kesehatan Mustafa, kok. Jadi yang namanya memelihara tu ya seperti itu. Kalok yang dapat kartu sehat hanya untuk golongan mampu saja, ya kacau jugak, masa' yang boleh sakit cumak yang ndak mampu. Orang mampu tuh harus membayar pajak yang lebih besar daripada orang tak mampu, lho. Jangan dipikir jadi orang mampu tuh murah, mahal tauk! Kalok orang mampu membayar gengsinya dengan perawatan kelas mewah, ya itu urusan mereka sendiri. Tapi tetap orang mampu harus mendapatkan kartu sehat jugak. Warga negara Indonesia kok dibedabedakan.

Nah, Mustafa bersyukur kalok akhirnya Indonesia memiliki orang yang peduli dengan kesehatan warganya. Karena selama ini kan masyarakat dikibuli dengan malaikat bernama asuransi kesehatan. Bayar sejumlah uang setiap bulannya untuk itu, kemudian kalok sakit dan dirawat, pemilik asuransi bisa membayar separuhnya, atau berapalah gitu. Nah, kalok punya pekerjaan dan mampu untuk membayar bulanan ya mungkin aman-aman saja, tapi kalok pekerjaan pun hanya cukup untuk makan dan menghidupi anak istri, apa ya mau masih sempet mbayar asuransi? Terus kalok sakit apa ya mampu mbayar rumah sakit yang menurut pengalaman pribadi Mustafa ternyata sungguh tidak murah? Lha, kesehatan tuh harusnya jadi tanggung jawab pemerintah, kok, kenapa malah pengusaha asuransi kesehatan bisa metantang-metenteng dengan gagah? Harusnya asuransi kesehatan tuh ndak laku di sebuah negara yang berani memelihara warganya. Aneh banget sih...

Ya pokoknya gitu, kesehatan harusnya menjadi tanggungjawab negara. Terus mahasiswa-mahasisiwi yang nyambi kerja sebagai penjaja asuransi sebaiknya belajar lebih giat lagi yaa...jangan lulus dulu sampek berhenti jadi penjaja asuransi.

Catatan: tiga besar calon gubernur Jawa Barat adalah mantan aktor/aktris yang dulu kerjanya menjadi orang lain untuk sebuah peran. Kok ya bisabisanya dipilih jadi cagub. Yakin mereka udah berenti akting? Bayarannya untuk berakting gede lhoooo...tinggal pindah panggung akting lhooo....hayoooo...yakin njadiin mereka tiga besar?

Friday, February 15, 2013

Valentine

Nah, siapa yang di tahun 2013 masih skeptis dengan perayaan yang namanya valentine? Yang merasa terlalu cool untuk sebuah perayaan bernama valentine? Yang sebenarnya ingin ikut merayakan valentine tetapi takut usia dan wajahnya hanya akan membuatnya menjadi semakin alay? Yang jelas bukan Mustafa!

Seperti yang sudah diketahui orang banyak, Mustafa bukanlah seorang yang merayakan suatu hari khusus atau hari besar, Mustafa adalah tipe orang yang menganggap tanggal merah di kalender adalah berkah dan perayaan hari besar tanpa tanggal merah adalah hari yang biasa saja. Dan walaupun bukan kebiasaan Mustafa juga untuk merayakan Valentine, Mustafa ternyata seorang yang perasa dan mudah terbawa suasana, sehingga dirinya pun pada akhirnya berada pada posisi dimana ada seorang pria tampan bersuara emas menyanyikannya enam sampai tujuh lagu cinta populer di penghujung hari kasih sayang.

Ya, hari kasih sayang seperti tahun-tahun sebelumnya selalu dimanfaatkan dengan baik oleh para pemilik usaha dengan iming-iming perayaan spesial. Yang paling umum tentu saja sektor pariwisata, semisal makan malam romantis di restoran yang mendadak bersetting romantis, nginep di penginepan bareng pasangan tanpa ditanya surat nikah, tiket pesawat untuk pasangan yang dibuat tampak murah, atau mungkin bayar tiket masuk kebun binatang cukup satu saja untuk pasangan yang memiliki ikatan mesra, atau apalah yang bisa diromantis-romantiskan. Bahkan sampai klinik kesehatan pun memberikan paket check up kpesehatan bareng pasangan. Nah, si klinik ini iming-imingnya lebih dahsyat lagi, alih-alih mengagungkan valentine, dia tampak seperti melawan valentine dengan memberikan fakta bahwa coklat dan permen yang biasa diberikan oleh pasangan secara jor-joran mengandung kalori dan kolesterol yang sangat besar dan tidak sehat, makanya harus periksa. Nah!

Mustafa sedikit geli memikirkan kelihaian para pengusaha itu untuk menarik pembeli. Tetapi Mustafa tentu saja tidak akan terbujuk rayu para pengusaha itu, dia sudah bernadzar tidak akan terbujuk rayu sampai ada toko bahan bangunan yang bisa memberikan tawaran menarik di hari valentine. Mungkin suatu hari nanti ada promosi di hari kasih sayang beli satu sak semen dapat gratis satu sak semen lagi bagi pasangan yang punya rumah bersebelahan (syarat dan ketentuan berlaku), siapa tau ya pemilik toko bangunan itu sudah sangat putus asa gitu.