Thursday, April 4, 2013

Mustafa, Musdalifah, Pendeta, dan Teh Sosro


Hari kedua mendapat bekal pernikahan, Mustafa dan Musdalifah bersiasat untuk membuat suasana menjadi tidak kaku… dan gagal!

Sebelum meluncur menuju gereja tempat sepasang rusa yang sedang kasmaran ini diberikan pengarahan tentang pernikahan, Mustafa singgah sebentar ke sebuah mini market yang cukup gaul untuk membeli teh sosro dingin. Ya, belajar dari hari sebelumnya yang membuat mereka dehidrasi karena durasi yang lama dan suasana tegang yang mencekam, maka mereka menyiapkan minuman. 

Mendahului doa pembuka pengarahan mereka, Musdalifah menawarkan Pendeta minuman tersebut. Pendeta dengan rambut polemnya yang berminyak menerima teh sosro dengan tersipu dan mengucapkan terima kasih. Kemudian beliau langsung memanjatkan doa pembukaan dan diteruskan dengan membicarakan topik pada hari itu, yaitu tanggung jawab gereja terhadap keluarga.

Teh sosro tidak disentuh.

Gereja ternyata bertanggung jawab pada umatnya secara penuh. Bertanggung jawab yang dimaksud di sini adalah memberikan pelayanan spiritual pada umatnya. Contohnya seperti apa yang dilakukan oleh Mustafa dan Musdalifah, gereja memberikan pelayanan untuk mempersiapkan supaya rumah tangga mereka tetap harmonis dan menyenangkan di kemudian hari. *sebenarnya tidak disebutkan tentang menyenangkan sih*. Lalu bisa juga ketika Mustafa nantinya minta didoakan, gereja akan senang hati melayaninya. Lalu kalau nanti semisal rumah tangga Mustafa dan Musdalifah dinilai berantakan, sering berantem, tidak tampak harmonis, suram, atau aura kegelapan menyelimuti rumah tangga mereka, gereja akan dengan senang hati proaktif memperbaiki rumah tangga tersebut supaya seturut dengan jalan Tuhan yang diterjemahkan oleh gereja sebagaimana rupa.

Teh sosro masih tidak disentuh.

Tetapi tentu saja gereja juga tidak melulu melayani saja tanpa dilayani. Sebagai bentuk tanggung jawab umat Kristiani terhadap gereja, Mustafa dan Musdalifah nantinya juga harus melayani gereja. Bentuknya seperti apa? Ya bisa saja nanti Mustafa aktif di kursi pengurus gereja, ikut rapat dan membuat supaya gereja mereka semakin oke nantinya, ramai dan aktif. Atau bisa saja Musdalifah nantinya mengurusi sekolah minggu yang penuh dengan anak-anak kecil yang berisik dan susah diatur. Atau semisal nanti mereka berdua memberikan pelayanan ke lapas-lapas yang penuh dengan orang yang lebih bermasalah daripada mereka berdua untuk memberikan pelayanan doa supaya jiwa-jiwa yang bermasalah itu ditobatkan.

Kenapa Mustafa dan Musdalifah harus memberikan pelayanan pada gereja juga? Karena di dalam kitab suci tertulis kalau manusia sudah seharusnya menjadi garam dan terang dunia. Garam yang asin dan terang yang benderang. Kalau garam tidak asin tentu saja tidak ada gunanya, hanya bagaikan mengelutak kerikil saja nantinya. Kalau terang yang tidak benderang dikhawatirkan nanti menjadi seperti lampu delman yang pernah dinaiki Suzana dan Bang Bokir…hiiiiiiii…suram!

Teh sosro masih tidak disentuh.

Nah, Pendeta kami ini sungguh nyentrik, karena di saat memberikan pengarahan supaya Mustafa dan Musdalifah tahu persis bagaimana mereka seharusnya bersikap, dia sering tidak menyelesaikan kalimatnya dan menginginkan Mustafa dan Musdalifah yang aktif mencari kosakata yang tepat. Mustafa sering kali salah tanggap dan menganggap seperti kuis cari kata. Ketika jawaban Mustafa salah, dia akan dengan cepat memberikan jawaban yang lainnya. Masih salah lagi, maka Mustafa tidak putus asa, semakin menggebu-gebu untuk menjawab sampai benar. Tentu saja ketika jawabannya benar – sesuai dengan apa yang diinginkan pak pendeta, Mustafa langsung memasang ancang-ancang untuk tos dengan Musdalifah. Sayangnya Musdalifah melihat kelakuan Mustafa yang tampak gagal tanggap justru semakin cemberut wajahnya.

Teh sosro masih tidak disentuh.

Nah, di ujung sesi, Mustafa dan Musdalifah merasakan lapar yang cukup dahsyat di sekitaran perut mereka. Sungguh tak dapat dihindari lagi, mereka berdua terpaksa membuat daftar makanan yang ingin mereka santap sepulangnya dari gereja. Dan memikirkan itu ternyata sangat membantu sekali. Tak disangka ujung sesi benar-benar sampai pada ujungnya, dan pendeta pun menutupnya dengan doa.

Akhirnya teh sosro disentuh juga oleh pendeta, dan Mustafa serta Musdalifah baru berani menyeruput juga. 

jakartadailyphoto.com

Tuesday, April 2, 2013

Mustafa, Musdalifah, Pendeta, dan ubur-ubur

Ketika Mustafa sudah menambatkan hatinya pada Musdalifah, maka Mustafa secara tidak langsung sudah harus siap menghadapi seorang pemuka agama yang disebut dengan pendeta. 

Hanya ada Mustafa dan Musdalifah di hadapan pendeta dalam satu ruangan. Ketika sudah bertemu dengan pendeta tentu saja yang dibicarakan adalah kehidupan kristiani yang berdasarkan pada alkitab dan segala penafsirannya. Tentang bagaimana mereka berdua dijodohkan oleh Tuhan dan menyikapinya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sang comblang. 


Awalnya tentang nenek moyang yaitu Adam dan Hawa. Kemudian bagaimana pria dan wanita sudah seharusnya hidup berdampingan tanpa ada yang menjadi kepala bagi satu dan lain. Karena wanita diambil dari tulang rusuk sang pria, bukan dari tengkorak atau tulang jempol kaki. Tuhan sepertinya sudah memikirkan bagaimana manusia menafsirkan asal muasal itu, karena kalau wanita diambil dari tengkorak, manusia akan berfikir kalau wanita yang harusnya memimpin sang pria. Kebalikannya, kalau wanita diambil dari tulang jempol kaki, maka wanita yang akan menjadi bawahan bagi si pria. Maka dari itu, manusia seharusnya hidup berdampingan. 


Dan kenapa pula pria dan wanita harus hidup berpasangan? karena itu baik. Jadi ternyata di alkitab itu tertulis kalau hidup bepasangan, pria - wanita, adalah hal yang baik. Sama seperti makhluk hidup lain yang diciptakan sebelum manusia. Tidak perlu diperdebatkan siapa yang menentukan baik atau tidak ini, karena semua sudah tertulis di alkitab. Mustafa membayangkan ubur-ubur jantan dan ubur-ubur betina dan pastinya sudah saling mengenali mana yang jantan dan mana yang betina, saling jatuh cinta dan kemudian berhubungan  seksual sehingga melahirkan keturunan. Pastinya ubur-ubur betina tidak diambil dari tulang rusuk si ubur-ubur jantan.


Kemudian perbincangan berlanjut pada perzinahan. Perzinahan itu bukan berarti berhubungan seksual dengan pasangan milik orang lain. Mustafa nantinya ketika sudah menikah juga bisa saja melakukan perzinahan dengan Musdalifah. kok bisa? ya bisa! Karena perzinahan ternyata juga termasuk ketika "begituan" tetapi hanya mementingkan hawa nafsu, semisal Mustafa seorang, tanpa ada rasa ingin berbagi kasih sayang. Setelah perzinahan, biasanya berujung pada perceraian. Nah, perceraian pertama kali yang dicatat dalam alkitab adalah perzinahan anaknya Musa. Dan Musa menentangnya. tetapi apa mau dikata, Musa sudah terlanjur melihat keteguhan hati sang anak untuk bercerai, akhirnya dia memutuskan kalau mau bercerai ya harus mengajukan surat yang sah. Mungkin ini yang pada zaman non alkitab harus ada persidangan secara hukum dan secara agama kalau mau bercerai. 


Yang menarik adalah pesan kalau Mustafa dan Musdalifah sebaiknya tidak memendam perasaan takut satu sama lain. Semisal nih, Mustafa pengen banget beli ubur-ubur elektrik dalam akuarium yang harganya mahal, tetapi Mustafa tau kalau Musdalifah pastilah tidak akan mengizinkan. Nah, karena takut kena semprot Musdalifah, alih-alih berkata jujur Mustafa memilih membeli dan menitipkan ubur-ubur elektrik tersebut di rumah seorang janda sebelah rumah supaya mudah jika Mustafa ingin melihat ubur-ubur kesayangannya. Padahal seperti itu tidak boleh. Mustafa dan Musdalifah seharusnya saling telanjang dan terbuka apa adanya. tidak perlu malu jika bertelanjang, karena dari telanjang itu, Mustafa dan Musdalifah artinya sudah sepakat untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.


Dan boleh saling bertelanjang ketika sudah menikah. "Kalau belum menikah sudah bertelanjang dulu, boleh ndak, pak pendeta? supaya ndak kebacut nantinya..." Pertanyaan itu tentu saja tidak dikeluarkan oleh Mustafa saat berhadapan dengan pendeta. Rusak nanti reputasi sepasang rusa yang sedang kasmaran itu nantinya. 


Dan sayang sekali, Mustafa juga tidak merasakan menemukan contoh konkrit yang menunjukkan sikap saling telanjang diantara suami-istri. Kebanyakan suami atau istri cenderung ingin menjaga perasaan pasangannya agar tidak terluka atau kecewa, dan itu yang membuat seseorang terlihat takut dan tidak jujur. Suami-Istri yang tidak telanjang terlalu banyak ditemukan di kehidupan Mustafa. Dan itu yang membuat Mustafa dan Musdalifah berjanjian untuk selalu saling telanjang. ehhhh...!


 

Mungkin hanya ubur-ubur saja yang selalu bertelanjang.

wallfloweronline.com


Wednesday, February 20, 2013

Sehat Indonesia!

Indonesia, negara tempat Mustafa tinggal, akan mengadakan satu lagi pesta bernama pesta demokrasi. Mungkin tidak sebesar pesta di tahun 2014 nanti, tetapi PILGUB ini bolehlah untuk pemanasan kehidupan demokrasi di negaranya seperti apa sih. Nah, yang lagi santer nih PILGUB untuk daerah Jawa Barat, dan quick count sampai saat tulisan ini dipublikasikan oleh Mustafa menyatakan kalau posisi tiga teratas adalah calon yang melibatkan pesohor / mantan pesohor.

Rata-rata calon gubernur ini masih terbawa semangat Jokowi-Ahok yang sudah lebih dulu duduk di kursi pemerintahan DKI Jakarta sebagai gubernur. Metode pendekatan secara langsung tentunya, disertai dengan peluh yang mereka tunjukkan pada media sebagai alat untuk menarik simpati. Program yang mereka janjikan apabila terpilih pun ada yang mirip, di sini yang menjadi perhatian Mustafa adalah kartu sehat untuk masyarakat. Kesibukan Mustafa membuatnya tidak mengerti siapa yang nanti akan mendapatkan kartu sehat, apakah seluruh warga, atau hanya dari golongan yang dilabeli sebagai golongan tak mampu saja. Kalau hanya untuk golongan tertentu saja, artinya program ini masihlah program bobrok!

Menurut Undang-undang yang menyatakan kalau negara memelihara seluruh warga negaranya, maka sudah selayaknya negara menjamin kesehatan warganya pulak. Kalau ndak dijamin kesehatannya ya melanggar Undang-undang dong namanya. Lha Mustafa saja dipelihara oleh ayahnya yang menjamin kesehatan Mustafa, kok. Jadi yang namanya memelihara tu ya seperti itu. Kalok yang dapat kartu sehat hanya untuk golongan mampu saja, ya kacau jugak, masa' yang boleh sakit cumak yang ndak mampu. Orang mampu tuh harus membayar pajak yang lebih besar daripada orang tak mampu, lho. Jangan dipikir jadi orang mampu tuh murah, mahal tauk! Kalok orang mampu membayar gengsinya dengan perawatan kelas mewah, ya itu urusan mereka sendiri. Tapi tetap orang mampu harus mendapatkan kartu sehat jugak. Warga negara Indonesia kok dibedabedakan.

Nah, Mustafa bersyukur kalok akhirnya Indonesia memiliki orang yang peduli dengan kesehatan warganya. Karena selama ini kan masyarakat dikibuli dengan malaikat bernama asuransi kesehatan. Bayar sejumlah uang setiap bulannya untuk itu, kemudian kalok sakit dan dirawat, pemilik asuransi bisa membayar separuhnya, atau berapalah gitu. Nah, kalok punya pekerjaan dan mampu untuk membayar bulanan ya mungkin aman-aman saja, tapi kalok pekerjaan pun hanya cukup untuk makan dan menghidupi anak istri, apa ya mau masih sempet mbayar asuransi? Terus kalok sakit apa ya mampu mbayar rumah sakit yang menurut pengalaman pribadi Mustafa ternyata sungguh tidak murah? Lha, kesehatan tuh harusnya jadi tanggung jawab pemerintah, kok, kenapa malah pengusaha asuransi kesehatan bisa metantang-metenteng dengan gagah? Harusnya asuransi kesehatan tuh ndak laku di sebuah negara yang berani memelihara warganya. Aneh banget sih...

Ya pokoknya gitu, kesehatan harusnya menjadi tanggungjawab negara. Terus mahasiswa-mahasisiwi yang nyambi kerja sebagai penjaja asuransi sebaiknya belajar lebih giat lagi yaa...jangan lulus dulu sampek berhenti jadi penjaja asuransi.

Catatan: tiga besar calon gubernur Jawa Barat adalah mantan aktor/aktris yang dulu kerjanya menjadi orang lain untuk sebuah peran. Kok ya bisabisanya dipilih jadi cagub. Yakin mereka udah berenti akting? Bayarannya untuk berakting gede lhoooo...tinggal pindah panggung akting lhooo....hayoooo...yakin njadiin mereka tiga besar?

Friday, February 15, 2013

Valentine

Nah, siapa yang di tahun 2013 masih skeptis dengan perayaan yang namanya valentine? Yang merasa terlalu cool untuk sebuah perayaan bernama valentine? Yang sebenarnya ingin ikut merayakan valentine tetapi takut usia dan wajahnya hanya akan membuatnya menjadi semakin alay? Yang jelas bukan Mustafa!

Seperti yang sudah diketahui orang banyak, Mustafa bukanlah seorang yang merayakan suatu hari khusus atau hari besar, Mustafa adalah tipe orang yang menganggap tanggal merah di kalender adalah berkah dan perayaan hari besar tanpa tanggal merah adalah hari yang biasa saja. Dan walaupun bukan kebiasaan Mustafa juga untuk merayakan Valentine, Mustafa ternyata seorang yang perasa dan mudah terbawa suasana, sehingga dirinya pun pada akhirnya berada pada posisi dimana ada seorang pria tampan bersuara emas menyanyikannya enam sampai tujuh lagu cinta populer di penghujung hari kasih sayang.

Ya, hari kasih sayang seperti tahun-tahun sebelumnya selalu dimanfaatkan dengan baik oleh para pemilik usaha dengan iming-iming perayaan spesial. Yang paling umum tentu saja sektor pariwisata, semisal makan malam romantis di restoran yang mendadak bersetting romantis, nginep di penginepan bareng pasangan tanpa ditanya surat nikah, tiket pesawat untuk pasangan yang dibuat tampak murah, atau mungkin bayar tiket masuk kebun binatang cukup satu saja untuk pasangan yang memiliki ikatan mesra, atau apalah yang bisa diromantis-romantiskan. Bahkan sampai klinik kesehatan pun memberikan paket check up kpesehatan bareng pasangan. Nah, si klinik ini iming-imingnya lebih dahsyat lagi, alih-alih mengagungkan valentine, dia tampak seperti melawan valentine dengan memberikan fakta bahwa coklat dan permen yang biasa diberikan oleh pasangan secara jor-joran mengandung kalori dan kolesterol yang sangat besar dan tidak sehat, makanya harus periksa. Nah!

Mustafa sedikit geli memikirkan kelihaian para pengusaha itu untuk menarik pembeli. Tetapi Mustafa tentu saja tidak akan terbujuk rayu para pengusaha itu, dia sudah bernadzar tidak akan terbujuk rayu sampai ada toko bahan bangunan yang bisa memberikan tawaran menarik di hari valentine. Mungkin suatu hari nanti ada promosi di hari kasih sayang beli satu sak semen dapat gratis satu sak semen lagi bagi pasangan yang punya rumah bersebelahan (syarat dan ketentuan berlaku), siapa tau ya pemilik toko bangunan itu sudah sangat putus asa gitu.

Saturday, February 9, 2013

Imlek

Mustafa turut berbahagia untuk orang cina yang merayakan tahun baru yang jatuh pada 10 Februari 2013. Ada juga yang menyedihkan sih, karena hari yang seharusnya hari libur jatuh pada hari minggu, sehingga imlek tahun ini tidak begitu terasa.

Baiklah, tahun ini adalah tahun ular air hitam. Uwohhh. Terdengar sangar, yaaa. Banyak orang cina yang ketakutan pada tahun ular, sehingga tahun ini semua orang cina menjadi lebih waspada. Kejadian buruk pun banyak pula yang terjadi di tahun ular. Great depression di amerika sana tahun 20an, kemudian pengeboman gedung WTC, dan pastinya masih banyak lagi kalok mau dicari-cari. Nah, karena orang Cina, dan keturunan Cina, banyak yang parno gitu, jadinya beberapa pengantin baru pun menunda kehamilan, karena tidak mau anak mereka lahir di tahun ular.

Tetapi walaupun tahun ular begitu menakutkan, seharusnya mereka bisa lebih optimis, karena ular air hitam adalah ular yang tidak begitu berbisa dan lebih jinak, tidak seperti ular yang sebelumnya yang sangat ganas. Mustafa ya pastinya bertanya-tanya bagaimana cara mereka menentukan jenis ular yang akan menemani mereka sepanjang tahun. Banyak penemuan penting juga ditemukan di tahun ular, loh. Siapa tahu alat elektronik yang membahagiakan bernama televisi itu ditemukan di tahun ular. Jadi yang orang cina memang seharusnya waspada, tetapi jangan sampai ketakutan setengah mati sampai tidak berani melangkah.

Perjuangan orang Cina di Indonesia pun tidaklah mudah. Ya iyalah, bukan di rumah sendiri. Sejak jaman PKI dulu pun, orang Cina dan keturunannya sudah harus pontang-panting menyesuaikan diri dengan kondisi politik Indonesia. Banyak sekali keluarga Cina yang harus diungsikan dan kehilangan tempat tinggal mereka, mungkin juga sampai kehilangan sanak saudara hanya karena sentimen rasial yang sudah ada sejak nenek moyang kita dulu. Yang menyebalkan dari sentimen rasial adalah si korban sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa, lha namanya keturunan yang kita dapat dari lahir ya sudah toh, terima saja. Padahal ya orang cina tuh turut berperan dalam kemerdekaan Indonesia, hanya saja perlakuan yang mereka dapatkan ya tidak sepadan jadinya.

Mustafa juga masih ingat dengan kerusuhan '98 yang benar-benar mendiskreditkan warga keturunan Cina. Bagaimana masih tersimpan dengan baik di kepala Mustafa banyak rolling door toko bertuliskan "asli pribumi" karena ketakutan tokonya dijarah. Bagaimana keluarga cina beramai-ramai mengungsi ke pulau Bali sampai hampir satu bulan lamanya. Bagaimana mereka mengikhlaskan seluruh harta kekayaannya dan hasil keringat yang mereka peras sejak masih belia dulu. Bagaimaan anak gadis mereka dihentikan kendaraannya di tengan jalan dan diperkosa ramai-ramai. Bagaimana orang-orang konyol memanfaatkan keadaan untuk menikmati apa yang dimiliki orang cina dan tidak ada hukum adil yang berjalan. Belum pulih dari kerusuhan dan penjarahan '98, tiga tahun kemudian orang cina kembali melakukan hal yang sama karena pembakaran gereja oleh (lagi-lagi) orang konyol yang merasa apa yang mereka yakini lebih benar. Orang Cina tidak melulu orang gerejawi, karena beberapa dari orang Cina pun seorang muslim dan seorang umat klenteng. Umat gereja asli pribumi malah bisa melenggang dengan aman, karena apa? Karena tidak terduga orang pribumi itu beragama apa. Nah!

Bagaimana dengan 2013?
Sekarang orang cina yang ada di Indonesia ya sebenarnya bisa hidup tenang, terima kasih pada Gus Dur yang mencanangkan imlek sebagai hari besar keagamaan pada tahun 2000 dan kepada Megawati jugak yang pada tahun 2003 menetapkan imlek sebagai hari libur nasional. Hanya saja sekarang orang pribumi masih sering meragukan keindonesiaan orang keturunan cina, dan itu pun Mustafa tidak habis pikir. Toh mereka lahir di Indonesia, sama seperti halnya orang Minang yang lahirnya di Jakarta. Tetap saja disebut orang Indonesia. Ah...aneh sekali sih orang-orang ini. Ya mereka orang Indonesia yang keturunan Cina, sama seperti Mustafa yang orang Indonesia tapi keturunan Arab.

Ya, semoga di tahun ular air hitam ini, imlek membawa kebahagiaan bagi warga keturunan cina dan bagi seluruh orang pribumi yang bekerja pada orang keturunan cina, dan bagi seluruh mahluk hidup. Semoga juga orang keturunan cina akan memiliki selera berpakaian yang lebih baik lagi. Semoga orang keturunan cina tidak lagi tertarik pada sendal Crocs.

Salam ular...*hisssssss*

Saturday, February 2, 2013

Entertainment

Mustafa kini sudah tidaklah begitu merana. Kenapa? Kerna apa yang dikejarnya selama beberapa bulan ini dia dapatkan juga. Pekerjaan. Penuh pertimbangan tentunya sebelum memasuki perusahaan di mana Mustafa bekerja saat ini. Yang membuat gundah adalah latar belakang keimanan Mustafa, wahai saudara-saudari yang terkasih.

Perusahaan ini adalah sebuah perusahaan umum, maksudnya perusahaan yang berusaha menaikkan omset penjualan produknya, yang terbuka bagi pekerja dari seluruh kalangan. Ya, tentunya kalangan dengan latar belakang yang sesuai dengan kriteria khusus si pemilik perusahaan, ya. Nah, di perusahaan tempat Mustafa bekerja kini, pada hari-hari tertentu mewajibkan seluruh pekerjanya bersekutu bersama mengikuti ibadah lengkap dengan musik live dan pendeta yang diundang untuk mewartakan firman Tuhan.

Awalnya Mustafa tercengang dengan apa yang dia hadapi. Tidak lain dan tidak bukan karena ini benar-benar hal baru yang sama sekali tidak ada di bayangan Mustafa muncul di dunia kerja. Tapi ya kalau boleh jujur, Mustafa sih senang kalau ada hal baru yang terjadi di hidupnya...tapi ya ndak kayak gini jugak, kaleee! Masalahnya adalah, hal baru ini seharusnya dibiarkan menjadi masalah individu, masalah setiap orang yang tunggal, dan tanpa embel-embel-gembel "wajib".

Akhirnya mustafa melihat kewajiban itu tadi sebagai sebuah hiburan. Hiburan seperti apa? Ya hiburan seperti pertunjukan monoplay yang biasa Mustafa tonton sewaktu kuliah dulu. Ada seorang aktor yang memverbalkan naskahnya dengan berbagai permainan ekspresi wajah dan intonasi yang dimainkan. Uwooohhh! pas lagi cerita sedih, ya wajahnya sedih, pas lagi cerita gembira, ya wajahnya gembira. Dan sang aktor itu bisa seketika berwajah angkuh ketika dia merasa menang dan benar. Benar yang pastinya sudah Mustafa pahami sesuai dengan isi buku petunjuk yang berisi beberapa kitab itu.

Monoplay itu pada akhirnya ditutup dengan nyanyian pemujaan yang dipimpin oleh seorang song leader. Song leader ini pun tidak jauh berbeda dengan aksi seprang aktor monoplay, karena di saat dia menyanyikan lagu ceria, wajahnya bisa menjadi sangat sumringah. Sedetik kemudian berganti lagu menjadi lagu sedih pun dia berwajah merana. Luar biasa. Ini bahkan jauh lebih baik daripada acara musik Dahsyat atau Inbox yang menjamuri televisi nasional Mustafa.

Ya, karena sikap dewasa Mustafa yang mengalami kemajuan, Mustafa bisa melihat hiburan ini dari sisi positif. Apa yang diwajibkan di tempat Mustafa bekerja ini adalah ajaran dan ajakan untuk berbuat kebaikan, warta kasih sayang, dengan anekdot yang sangat enak dibawakan. Terus terang Mustafa sangat menikmati sesi kewajiban ini. Seperti Mustafa yang jadi semakin mengerti bagaimana seharusnya menyikapi kekacauan yang terjadi di negara atau kota tempat dia tinggal. Terlebih lagi bagaimana kewajiban itu mengurangi jam kerjanya selama lebih kurang 50 menit tanpa mengurangi gajinya.

Ini dia, Mustafa yang dewasa dan siap menempuh hidup baru. Walaupun komentar pertama Mustafa sesaat setelah mengikuti sesi wajib ini adalah, "this is so fu*kin' wrong...this is so fu*kin' wrong!"

Friday, January 25, 2013

Kelas

Baru saja Mustafa menyadari kalau ternyata hampir seluruh hidupnya dihadapkan dengan apa yang disebut dengan kelas. Mulai dari dunia pendidikan tentunya, awal-awal ya masup TK dulu, TK pun ada yang namanya kelas kecil dan kelas besar, yang sepertinya dikategorikan sesuai dengan umur, bukan dengan bentuk badan. Lalu ada SD kelas satu, yang berusaha untuk terus naik sampai kelas 6. Dan seterusnya sampai Mustafa lulus SMA. Hanya setelah kuliah ini saja Mustafa bertemu dengan kelas yang sedikit berbeda, kelas dengan jenjang seperti sekolah dasar sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kelas sosialita kampus, kelas anak nongkrong kantin, kelas aktivis, sampai kelas teacher's pet. Oh, mungkin ada juga yang namanya kelas Old Crack yang sudah banyak mencicipi asam garam kampus karena tak lulus-lulus. Intinya, sekarang Mustafa merasa hidupnya sedari dulu dibiasakan dengan apa yang namanya kelas.

Hal ini juga mungkin dialami oleh sebagian besar anak beruntung seperti Mustafa juga ya, sekolah dari TK sampe lulus SMA terus masuk perguruan tinggi, terus menemukan kelasnya sendiri. Nah, oke ketika kita masih menjadi pelajar, tentu saja kita dibagi beberapa kelas karena materi pelajaran yang diberikan pun berbeda mengikuti perkembangan, entah itu perkembangan usia atau bentuk badan atau mungkin perkembangan pengetahuan, hanya saja ketika kita sudah sampai jenjang perguruan tinggi, kita sudah terbiasa dengan yang namanya kelas sehingga tak sadar kita berada di kelas yang pembedanya adalah sosial. Pergaulan. Fashion. Harta. Motor ceper. Boil gaul. Sepeda fixie. Sepatu. Seragam. Tempat nongkrong. Makanan. Dan masih banyak lagi.

Kekeraskepalaan dan ketidakpedulian kita ini yang nantinya merusak apa yang kita percayai dengan namanya pekerjaan, masyarakat, pemerintah, dan Indonesia. Coba, ya, ketika Mustafa ingin merasakan apa yang namanya bertahan hidup di wadah absurd bernama ekonomi, tentu saja harus memiliki uang dan untuk memilikinya tentu saja harus bekerja, dong, Mustafa harus menyesuaikan diri untuk tidak berkata jujur dan apa adanya pada seorang pemilik usaha. Kenapa? Ya tentu saja karena harus membaik-baikkan perusahaan tersebut supaya semakin harum namanya. Mustafa kini semakin terbiasa tidak berkata jujur pada apa yang sebenarnya dia rasakan, pada apa yang sebenarnya tidak cocok dengan dia, pada apa yang dia tidak ingin lakukan. Secara tidak sadar, ketika Mustafa ingin naik kelas (baca: jabatan) pun harus pandai bermanis-manis di hadapan atasannya. Mulai dari situ, sistem terbentuk di masyarakat kita yang menuntut pencitraan atas nama kelas. Kalok pencitraannya bagus, ya pasti bisa dengan mudah masuk di pemerintahan - negara - dengan tekad memperbaiki kelas. Bukan dengan tekad memperbaiki sampah masyarakat bernama korupsi.

Coba sekarang lihat di SPBU sana dah, ada yang namanya stiker bertuliskan "BBM bersubsidi hanya untuk golongan tidak mampu", ya pembagiannya adalah premium dan pertamax. Jadi kalok Mustafa berada di kelas mampu tapi mengisi premium, itu namanya bikin malu, tapi kalok Mustafa berada di kelas tidak mampu tapi mengisi premium, maka semakin mutlak lah ketidakmampuan Mustafa. Mustafa tidak terima jika bahan bakar saja musti memakai kelas. Ini pekerjaan pemerintah, bahan bakar minyak seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan justru masyarakatnya diadu domba seperti ini. Kalok Mustafa berada di kelas mampu, dia juga berhak memakai BBM bersubsidi, lha wong dia udah bayar pajak sesuai dengan apa yang dimilikinya. Bayar pajak mobil kijang dan mobil pajero saja sudah beda kok, masih lagi ngisi bensinnya dibedakan. Bah! Taik kucing!

Sekarang mundur lagi deh, Mustafa sekarang posisinya berada di kelas mampu atau tidak mampu? Tidak punya pekerjaan, tetapi bisa nongkrong di Starbucks. Tidak punya mobil, tapi bisa ke bioskop tiga kali seminggu. Jarang makan, tapi rokoknya Lucky Strike setiap hari. Mustafa berada di kelas mana? Ya tidak bisa terjawab, soalnya pemerintah pun ndak bisa mendefinisikan dengan jelas mana yang disebut mampu, mana yang disebut tak mampu. Pemerintah tuh cumak adu domba saja, biar pertamina untung karena produk pertamaxnya laku keras. Orang yang punya pajero ya gengsi dong dikatain tidak mampu karena beli premium, pertamax lah belinya. Orang yang cumak naik motor bebek, ogah dong selamanya dikatain tidak mampu sama perusahaan minyak itu, nyolong lah dia buat beli pajero.

Manusia itu tidak sadar kalau mereka memilih untuk dikotak-kotakkan oleh yang disebut kelas. Padahal jelas-jelas di dalam agama selalu dikumandangkan kalok manusia di mata tuhan itu sama. Tidak ada bedanya kaya dan miskin. Tidak ada bedanya mampu atau tidak mampu. Sekarang mereka juga bilang kalau negara adalah perwujutan dari Allah. Nah! Pikir-pikir lagi!