Saturday, February 9, 2013

Imlek

Mustafa turut berbahagia untuk orang cina yang merayakan tahun baru yang jatuh pada 10 Februari 2013. Ada juga yang menyedihkan sih, karena hari yang seharusnya hari libur jatuh pada hari minggu, sehingga imlek tahun ini tidak begitu terasa.

Baiklah, tahun ini adalah tahun ular air hitam. Uwohhh. Terdengar sangar, yaaa. Banyak orang cina yang ketakutan pada tahun ular, sehingga tahun ini semua orang cina menjadi lebih waspada. Kejadian buruk pun banyak pula yang terjadi di tahun ular. Great depression di amerika sana tahun 20an, kemudian pengeboman gedung WTC, dan pastinya masih banyak lagi kalok mau dicari-cari. Nah, karena orang Cina, dan keturunan Cina, banyak yang parno gitu, jadinya beberapa pengantin baru pun menunda kehamilan, karena tidak mau anak mereka lahir di tahun ular.

Tetapi walaupun tahun ular begitu menakutkan, seharusnya mereka bisa lebih optimis, karena ular air hitam adalah ular yang tidak begitu berbisa dan lebih jinak, tidak seperti ular yang sebelumnya yang sangat ganas. Mustafa ya pastinya bertanya-tanya bagaimana cara mereka menentukan jenis ular yang akan menemani mereka sepanjang tahun. Banyak penemuan penting juga ditemukan di tahun ular, loh. Siapa tahu alat elektronik yang membahagiakan bernama televisi itu ditemukan di tahun ular. Jadi yang orang cina memang seharusnya waspada, tetapi jangan sampai ketakutan setengah mati sampai tidak berani melangkah.

Perjuangan orang Cina di Indonesia pun tidaklah mudah. Ya iyalah, bukan di rumah sendiri. Sejak jaman PKI dulu pun, orang Cina dan keturunannya sudah harus pontang-panting menyesuaikan diri dengan kondisi politik Indonesia. Banyak sekali keluarga Cina yang harus diungsikan dan kehilangan tempat tinggal mereka, mungkin juga sampai kehilangan sanak saudara hanya karena sentimen rasial yang sudah ada sejak nenek moyang kita dulu. Yang menyebalkan dari sentimen rasial adalah si korban sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa, lha namanya keturunan yang kita dapat dari lahir ya sudah toh, terima saja. Padahal ya orang cina tuh turut berperan dalam kemerdekaan Indonesia, hanya saja perlakuan yang mereka dapatkan ya tidak sepadan jadinya.

Mustafa juga masih ingat dengan kerusuhan '98 yang benar-benar mendiskreditkan warga keturunan Cina. Bagaimana masih tersimpan dengan baik di kepala Mustafa banyak rolling door toko bertuliskan "asli pribumi" karena ketakutan tokonya dijarah. Bagaimana keluarga cina beramai-ramai mengungsi ke pulau Bali sampai hampir satu bulan lamanya. Bagaimana mereka mengikhlaskan seluruh harta kekayaannya dan hasil keringat yang mereka peras sejak masih belia dulu. Bagaimaan anak gadis mereka dihentikan kendaraannya di tengan jalan dan diperkosa ramai-ramai. Bagaimana orang-orang konyol memanfaatkan keadaan untuk menikmati apa yang dimiliki orang cina dan tidak ada hukum adil yang berjalan. Belum pulih dari kerusuhan dan penjarahan '98, tiga tahun kemudian orang cina kembali melakukan hal yang sama karena pembakaran gereja oleh (lagi-lagi) orang konyol yang merasa apa yang mereka yakini lebih benar. Orang Cina tidak melulu orang gerejawi, karena beberapa dari orang Cina pun seorang muslim dan seorang umat klenteng. Umat gereja asli pribumi malah bisa melenggang dengan aman, karena apa? Karena tidak terduga orang pribumi itu beragama apa. Nah!

Bagaimana dengan 2013?
Sekarang orang cina yang ada di Indonesia ya sebenarnya bisa hidup tenang, terima kasih pada Gus Dur yang mencanangkan imlek sebagai hari besar keagamaan pada tahun 2000 dan kepada Megawati jugak yang pada tahun 2003 menetapkan imlek sebagai hari libur nasional. Hanya saja sekarang orang pribumi masih sering meragukan keindonesiaan orang keturunan cina, dan itu pun Mustafa tidak habis pikir. Toh mereka lahir di Indonesia, sama seperti halnya orang Minang yang lahirnya di Jakarta. Tetap saja disebut orang Indonesia. Ah...aneh sekali sih orang-orang ini. Ya mereka orang Indonesia yang keturunan Cina, sama seperti Mustafa yang orang Indonesia tapi keturunan Arab.

Ya, semoga di tahun ular air hitam ini, imlek membawa kebahagiaan bagi warga keturunan cina dan bagi seluruh orang pribumi yang bekerja pada orang keturunan cina, dan bagi seluruh mahluk hidup. Semoga juga orang keturunan cina akan memiliki selera berpakaian yang lebih baik lagi. Semoga orang keturunan cina tidak lagi tertarik pada sendal Crocs.

Salam ular...*hisssssss*

Saturday, February 2, 2013

Entertainment

Mustafa kini sudah tidaklah begitu merana. Kenapa? Kerna apa yang dikejarnya selama beberapa bulan ini dia dapatkan juga. Pekerjaan. Penuh pertimbangan tentunya sebelum memasuki perusahaan di mana Mustafa bekerja saat ini. Yang membuat gundah adalah latar belakang keimanan Mustafa, wahai saudara-saudari yang terkasih.

Perusahaan ini adalah sebuah perusahaan umum, maksudnya perusahaan yang berusaha menaikkan omset penjualan produknya, yang terbuka bagi pekerja dari seluruh kalangan. Ya, tentunya kalangan dengan latar belakang yang sesuai dengan kriteria khusus si pemilik perusahaan, ya. Nah, di perusahaan tempat Mustafa bekerja kini, pada hari-hari tertentu mewajibkan seluruh pekerjanya bersekutu bersama mengikuti ibadah lengkap dengan musik live dan pendeta yang diundang untuk mewartakan firman Tuhan.

Awalnya Mustafa tercengang dengan apa yang dia hadapi. Tidak lain dan tidak bukan karena ini benar-benar hal baru yang sama sekali tidak ada di bayangan Mustafa muncul di dunia kerja. Tapi ya kalau boleh jujur, Mustafa sih senang kalau ada hal baru yang terjadi di hidupnya...tapi ya ndak kayak gini jugak, kaleee! Masalahnya adalah, hal baru ini seharusnya dibiarkan menjadi masalah individu, masalah setiap orang yang tunggal, dan tanpa embel-embel-gembel "wajib".

Akhirnya mustafa melihat kewajiban itu tadi sebagai sebuah hiburan. Hiburan seperti apa? Ya hiburan seperti pertunjukan monoplay yang biasa Mustafa tonton sewaktu kuliah dulu. Ada seorang aktor yang memverbalkan naskahnya dengan berbagai permainan ekspresi wajah dan intonasi yang dimainkan. Uwooohhh! pas lagi cerita sedih, ya wajahnya sedih, pas lagi cerita gembira, ya wajahnya gembira. Dan sang aktor itu bisa seketika berwajah angkuh ketika dia merasa menang dan benar. Benar yang pastinya sudah Mustafa pahami sesuai dengan isi buku petunjuk yang berisi beberapa kitab itu.

Monoplay itu pada akhirnya ditutup dengan nyanyian pemujaan yang dipimpin oleh seorang song leader. Song leader ini pun tidak jauh berbeda dengan aksi seprang aktor monoplay, karena di saat dia menyanyikan lagu ceria, wajahnya bisa menjadi sangat sumringah. Sedetik kemudian berganti lagu menjadi lagu sedih pun dia berwajah merana. Luar biasa. Ini bahkan jauh lebih baik daripada acara musik Dahsyat atau Inbox yang menjamuri televisi nasional Mustafa.

Ya, karena sikap dewasa Mustafa yang mengalami kemajuan, Mustafa bisa melihat hiburan ini dari sisi positif. Apa yang diwajibkan di tempat Mustafa bekerja ini adalah ajaran dan ajakan untuk berbuat kebaikan, warta kasih sayang, dengan anekdot yang sangat enak dibawakan. Terus terang Mustafa sangat menikmati sesi kewajiban ini. Seperti Mustafa yang jadi semakin mengerti bagaimana seharusnya menyikapi kekacauan yang terjadi di negara atau kota tempat dia tinggal. Terlebih lagi bagaimana kewajiban itu mengurangi jam kerjanya selama lebih kurang 50 menit tanpa mengurangi gajinya.

Ini dia, Mustafa yang dewasa dan siap menempuh hidup baru. Walaupun komentar pertama Mustafa sesaat setelah mengikuti sesi wajib ini adalah, "this is so fu*kin' wrong...this is so fu*kin' wrong!"

Friday, January 25, 2013

Kelas

Baru saja Mustafa menyadari kalau ternyata hampir seluruh hidupnya dihadapkan dengan apa yang disebut dengan kelas. Mulai dari dunia pendidikan tentunya, awal-awal ya masup TK dulu, TK pun ada yang namanya kelas kecil dan kelas besar, yang sepertinya dikategorikan sesuai dengan umur, bukan dengan bentuk badan. Lalu ada SD kelas satu, yang berusaha untuk terus naik sampai kelas 6. Dan seterusnya sampai Mustafa lulus SMA. Hanya setelah kuliah ini saja Mustafa bertemu dengan kelas yang sedikit berbeda, kelas dengan jenjang seperti sekolah dasar sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kelas sosialita kampus, kelas anak nongkrong kantin, kelas aktivis, sampai kelas teacher's pet. Oh, mungkin ada juga yang namanya kelas Old Crack yang sudah banyak mencicipi asam garam kampus karena tak lulus-lulus. Intinya, sekarang Mustafa merasa hidupnya sedari dulu dibiasakan dengan apa yang namanya kelas.

Hal ini juga mungkin dialami oleh sebagian besar anak beruntung seperti Mustafa juga ya, sekolah dari TK sampe lulus SMA terus masuk perguruan tinggi, terus menemukan kelasnya sendiri. Nah, oke ketika kita masih menjadi pelajar, tentu saja kita dibagi beberapa kelas karena materi pelajaran yang diberikan pun berbeda mengikuti perkembangan, entah itu perkembangan usia atau bentuk badan atau mungkin perkembangan pengetahuan, hanya saja ketika kita sudah sampai jenjang perguruan tinggi, kita sudah terbiasa dengan yang namanya kelas sehingga tak sadar kita berada di kelas yang pembedanya adalah sosial. Pergaulan. Fashion. Harta. Motor ceper. Boil gaul. Sepeda fixie. Sepatu. Seragam. Tempat nongkrong. Makanan. Dan masih banyak lagi.

Kekeraskepalaan dan ketidakpedulian kita ini yang nantinya merusak apa yang kita percayai dengan namanya pekerjaan, masyarakat, pemerintah, dan Indonesia. Coba, ya, ketika Mustafa ingin merasakan apa yang namanya bertahan hidup di wadah absurd bernama ekonomi, tentu saja harus memiliki uang dan untuk memilikinya tentu saja harus bekerja, dong, Mustafa harus menyesuaikan diri untuk tidak berkata jujur dan apa adanya pada seorang pemilik usaha. Kenapa? Ya tentu saja karena harus membaik-baikkan perusahaan tersebut supaya semakin harum namanya. Mustafa kini semakin terbiasa tidak berkata jujur pada apa yang sebenarnya dia rasakan, pada apa yang sebenarnya tidak cocok dengan dia, pada apa yang dia tidak ingin lakukan. Secara tidak sadar, ketika Mustafa ingin naik kelas (baca: jabatan) pun harus pandai bermanis-manis di hadapan atasannya. Mulai dari situ, sistem terbentuk di masyarakat kita yang menuntut pencitraan atas nama kelas. Kalok pencitraannya bagus, ya pasti bisa dengan mudah masuk di pemerintahan - negara - dengan tekad memperbaiki kelas. Bukan dengan tekad memperbaiki sampah masyarakat bernama korupsi.

Coba sekarang lihat di SPBU sana dah, ada yang namanya stiker bertuliskan "BBM bersubsidi hanya untuk golongan tidak mampu", ya pembagiannya adalah premium dan pertamax. Jadi kalok Mustafa berada di kelas mampu tapi mengisi premium, itu namanya bikin malu, tapi kalok Mustafa berada di kelas tidak mampu tapi mengisi premium, maka semakin mutlak lah ketidakmampuan Mustafa. Mustafa tidak terima jika bahan bakar saja musti memakai kelas. Ini pekerjaan pemerintah, bahan bakar minyak seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan justru masyarakatnya diadu domba seperti ini. Kalok Mustafa berada di kelas mampu, dia juga berhak memakai BBM bersubsidi, lha wong dia udah bayar pajak sesuai dengan apa yang dimilikinya. Bayar pajak mobil kijang dan mobil pajero saja sudah beda kok, masih lagi ngisi bensinnya dibedakan. Bah! Taik kucing!

Sekarang mundur lagi deh, Mustafa sekarang posisinya berada di kelas mampu atau tidak mampu? Tidak punya pekerjaan, tetapi bisa nongkrong di Starbucks. Tidak punya mobil, tapi bisa ke bioskop tiga kali seminggu. Jarang makan, tapi rokoknya Lucky Strike setiap hari. Mustafa berada di kelas mana? Ya tidak bisa terjawab, soalnya pemerintah pun ndak bisa mendefinisikan dengan jelas mana yang disebut mampu, mana yang disebut tak mampu. Pemerintah tuh cumak adu domba saja, biar pertamina untung karena produk pertamaxnya laku keras. Orang yang punya pajero ya gengsi dong dikatain tidak mampu karena beli premium, pertamax lah belinya. Orang yang cumak naik motor bebek, ogah dong selamanya dikatain tidak mampu sama perusahaan minyak itu, nyolong lah dia buat beli pajero.

Manusia itu tidak sadar kalau mereka memilih untuk dikotak-kotakkan oleh yang disebut kelas. Padahal jelas-jelas di dalam agama selalu dikumandangkan kalok manusia di mata tuhan itu sama. Tidak ada bedanya kaya dan miskin. Tidak ada bedanya mampu atau tidak mampu. Sekarang mereka juga bilang kalau negara adalah perwujutan dari Allah. Nah! Pikir-pikir lagi!

Saturday, January 19, 2013

Seeking a friend for the end of the world

Banyak kemungkinan yang akan terjadi ketika manusia mendapat berita bahwa akhir dari dunia sudah diketahui dengan pasti akan terjadi dalam waktu 20 hari ke depan. Yang paling mencolok perhatian Mustafa tentu saja kekacauan. Kekacauan yang ini lebih mengarah pada penjarahan dan perusakan, serta being ignorant.

Ini terinspirasi dari film berjudul sama dengan judul postingan ini, dibintangi oleh Steve Carrel dan Keira Knightly, hanya saja kali ini Mustafa tidak berbicara tentang film itu. Mustafa lebih tertarik membayangkan bagaimana jika hal akhir dari dunia benar-benar terjadi di dunia tempat Mustafa berpijak.

Negara tempat Mustafa tinggal ini lebih kurang negara yang Mustafa lihat sudah cukup punya banyak persiapan untuk menghadapi akhir dunia. Akhir dunia adalah saat dimana orang-orangnya menjadi tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan sekitar, saat dimana orang-orangnya merasa bebas melakukan apa yang diinginkannya. Saat yang membebaskan dan merdeka. Orang-orang akan mengambil apa yang bukan miliknya, orang-orang akan menikmati apa yang tidak bisa mereka nikmati sebelumnya, orang-orang akan banyak berbicara dengan tuhannya, dan tentu juga akan mencari teman untuk menghadapi akhir dunia. Itu artinya perusakan dan penjarahan akan sangat intens terjadi menjelang akhir dunia.

Indonesia setiap harinya diisi dengan perusakan, vandalisme, penjarahan, sampai pembunuhan. Pelakunya sudah berpikir tentang konsekuensinya, entah itu hukum, dari pihak berwenang sampai dibakar massa, entah itu terus berlari dari kejahatannya dengan menghilang dari masyarakatnya, entah juga kenikmatan yang dipetik dari kejahatannya. Bahkan terakhir kerusuhan berkepanjangan di Sumbawa yang tentu saja merembet ke sentimen etnis. Katanya Bhineka Tunggal Ika, tapi kok ya sirik-sirikan kayak gitu?

Indonesia juga dipenuhi dengan kaum yang taat beribadah dan tentunya beragama kuat. Nah, sayangnya kaum ini seperti menggilai pencitraan yang akan tertempel di setiap individu. Ketika mereka sudah melaksanakan kewajiban mingguan mereka, mereka akan merasa "aman", yang artinya justifikasi individu lain tidak akan mencitrakan mereka buruk. Itu adalah lingkungan masyarakat dimana Mustafa hidup di dalamnya. Sekarang apabila Mustafa ingin bertahan hidup di situ tentu saja Mustafa tidak bisa hanya berdiam diri di kamar dan tidak bertemu dengan siapa. Mustafa juga tidak bisa mengandalkan pertemanan social media yang sekarang dipenuhi dengan droid. Ya, akhirnya Mustafa sendiri tidak merasa bebas melakukan apa yang diinginkannya. Semuanya tergantung dengan pola manusia Indonesia berjalan. Tetapi Mustafa dengan bijaksana memakluminya, karena ini adalah hidup bersosial, yang pergerakannya dibatasi oleh hak dan kewajiban seorang manusia. Perduli setan dengan label negara dan label agama, seorang manusia adalah individu yang bebas dan tindakannya tidak terbatasi oleh label tersebut. Amin.

Jadi pak presiden SBY sudah tidak perlu kuatir menenangkan masyarakat Indonesia untuk menghadapi akhir dunia, karena kami sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah sering melakukan simulasi itu. Entah dengan ikhlas atau terpaksa.

Nah, kembali lagi ke akhir dunia yang sudah pasti diisi penjarahan, pasti banyak orang langsung menuju ke toko elektronik sekedar menjarah televisi Sony Bravia 55 inchi atau ke dealer Mitsubishi untuk mencicipi bagaimana rasanya mengendarai Outlander Sport, karena kemewahan itu mahal harganya. Hukum sudah tidak berlaku lagi, semua sudah tidak punya takut karena dalam 20 hari toh dunia akan musnah, hal-hal yang tidak terbeli dan tidak dapat dicicipi sebelumnya tentunya sudah dapat dijarah, jadi apalagi yang diinginkan untuk mempersiapkan akhir dunia?

Teman untuk menghadapi akhir dunia adalah satu hal yang tidak bisa dijarah di toko elektronik atau di dealer mobil, karena tidak ada yang namanya lapak Friend for the End of the World. Tidak perduli seberapa baik pencitraan kita, kalau tidak berani jujur pastinya tidak akan memiliki teman yang jujur juga. Teman yang jujur itu ya teman yang mau menghadapi akhir dunia bersama dengan ikhlas tanpa takut kehilangan satu sama lain. Mari kita bergandengan dan berpelukan saja.

Nb: Mustafa menulis ini dengan senyum manis membayangkan dengan siapa dia akan menghadapi akhir dunia yang terdengar keji tapi kenyataannya melegakan. Berbaring menatap mata temannya untuk meyakinkan dia bahwa semuanya akan baikbaik saja tanpa berucap satu patah katapun. Ihik..ihik..ihik..

Monday, January 7, 2013

Homoprestisisme

Satu pagi, Mustafa dan ayahnya yang sudah tua, mengecil, dan beruban, duduk besama di depan televisi menikmati sarapan dan berita ekonomi dari layar. Tidak sering Mustafa berada di situasi ini, tetapi pagi itu semesta memberikan kesempatan pada Mustafa untuk menikmati pagi yang berbeda, dengan kopi yang diganti teh dan semangkuk mi instan.

Kebetulan sekali berita yang saat itu tersajikan tentang peningkatan penjualan mobil pabrikan Jepang sebesar 30%. Berita itu yang menggelitik Mustafa dan ayahnya. Mereka berdua sadar kalau beberapa bulan lalu, Amerika dan Eropa dilanda krisis ekonomi yang membuat warganya benar-benar mengencangkan ikat pinggang konsumerisme, sehingga orang-orang itu tidak banyak berbelanja, dan mungkin merencakan menanam roti alih-alih membeli roti dari supermarket terdekat. Tapi ternyata tidak terjadi di Indonesia. Oh, sayang, Amerika dan Eropa itu semacam jauh dari Indonesia, ya.

Sementara Amerika dan Eropa mengalami krisis ekonomi, Indonesia malah semakin jor-joran dalam berbelanja. Belanja mobil. Menurut ayah Mustafa, Indonesia tidak akan pernah mengalami krisis ekonomi, karena masyarakatnya terlalu keras kepala untuk jatuh dan tidak mampu membeli mobil. Separah apapun kondisi keuangan satu keluarga, mereka akan memaksakan diri untuk memiliki mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Makanya tidak sedikit juga yang mobil atau motor diambil kembali oleh perusahaan kredit karena kelamaan nunggak bayaran.

Selain keras kepala, masyarakatnya juga gengsi-an, ndak mau keliatan susah. Ini dia! Ayah Mustafa melihat dari semakin banyaknya restoran mewah yang bermunculan dan tentu saja selalu tampak ramai, padahal ya harganya tu, ya, ndak murah juga. Jadi ya semakin mahal suatu produk atau jasa, ya semakin dicari. Hal ini tidak hanya terjadi di bisnis restoran saja, tetapi juga terjadi di bisnis properti. Semakin mahal harga rumah, ya pasti semakin cepat terjual. Kalok bisa makan di tempat yang mahal, tinggal di tempat yang mahal, dan naik mobil, maka seseorang akan merasa lebih memiliki arti. Nah!

Tentu saja homo prestisisme itu harus hidup di dunia bersama dengan homo nerimoisme. Yang terjadi di keluarga Mustafa adalah, homo prestisisme itu pada satu titik akan mencapai klimaks yang membuatnya berubah derajat menjadi homo nerimoisme, karena sudah tidak dapat mempertahankan statusnya. Proses menjadi total homo nerimoisme pun tidak
lah singkat, masih tetap ada kerinduan untuk berada di di status sebelumnya. Tetapi itu sangat wajar, karena tekanan media dari televisi dalam rupa iklan, sinetron, dan kontes mencari bakat terus menghantuinya.

Lebih mudah bagi homo nerimoisme untuk hidup bersama dengan homo prestisisme, secara namanya juga nerimo, ya, kan, tetapi tahap awal dua status itu hidup bersama sangat menyiksa bagi kedua homo itu, masing-masing sama-sama geram dengan tingkah laku lawan homo yang keterlaluan dan menurutnya tidak masuk akal. Namun ketika mereka sudah melaluinya, maka mereka akan mengalami hidup suci yang diberkati. Amin!

Mustafa dalam hati kecilnya gemetar dan mengurungkan niatnya untuk kredit mobil.



Thursday, December 20, 2012

Puber?

Tidak akan pernah Mustafa pungkiri kalau dia terlalu sering melamar pekerjaan, karena seumur hidupnya dia tidak pernah bertahan di satu pekerjaan selama lebih dari satu tahun. 11bulan adalah masa terlamanya bekerja, saat itu di sebuah restoran vegetarian di jogjakarta. Pekerjaannya menyenangkan, tidak terlalu sulit, dalam hal pelayanan, bayarannya pun sesuai, teman kerjanya baik, atasannya juga ramah, dan Mustafa bangga bekerja di sana.

Mustafa mendapatkan semua yang dia butuhkan dalam hidup, status non-pengangguran, pemasukan bulanan yang tetap, kebutuhan pokok yang terpenuhi, dan juga teman-teman yang menyenangkan. Tetapi sayang sekali dia tidak juga merasa puas akan itu. Atau mungkin lebih patut disebut jenuh, karena pada akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan pekerjaan yang membanggakan itu.

Hal serupa terjadi lagi di dua pekerjaan berikut yang dijalaninya, kurang dari 11 bulan Mustafa merasa jenuh dan enggan untuk terus bertahan dan menjadi manusia yang loyal. Kini Mustafa kembali lagi dalam pencarian pekerjaan, walaupun atasannya yang terakhir selalu memintanya untuk kembali, tetapi Mustafa memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke Lombok, pulau yang menginspirasi Mustafa untuk membuat blog ini, karena dia sudah menemukan sesuatu untuk bertahan di kota masa pubernya, Yogyakarta.

Ya, sekarang Mustafa sudah tidak puber lagi, walaupun jerawatnya seperti sedang tumbuh, karena dia kini sudah paham dan mengerti apa yang harus dilakukannya dengan hidupnya yang 'lame', yaitu menapak ke pijakan berikutnya. Itulah Mustafa, yang kini sudah tidak puber lagi.

Thursday, December 13, 2012

no kids

Karena Mustafa memutuskan untuk melupakan masa lalunya dan melangkah lebih jauh ke depan, maka Mustafa akan menghentikan cerita tentang masa lalunya. sekian.

penuh cinta, 
Mustafa