Banyak kemungkinan yang akan terjadi ketika manusia mendapat berita bahwa akhir dari dunia sudah diketahui dengan pasti akan terjadi dalam waktu 20 hari ke depan. Yang paling mencolok perhatian Mustafa tentu saja kekacauan. Kekacauan yang ini lebih mengarah pada penjarahan dan perusakan, serta being ignorant.
Ini terinspirasi dari film berjudul sama dengan judul postingan ini, dibintangi oleh Steve Carrel dan Keira Knightly, hanya saja kali ini Mustafa tidak berbicara tentang film itu. Mustafa lebih tertarik membayangkan bagaimana jika hal akhir dari dunia benar-benar terjadi di dunia tempat Mustafa berpijak.
Negara tempat Mustafa tinggal ini lebih kurang negara yang Mustafa lihat sudah cukup punya banyak persiapan untuk menghadapi akhir dunia. Akhir dunia adalah saat dimana orang-orangnya menjadi tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan sekitar, saat dimana orang-orangnya merasa bebas melakukan apa yang diinginkannya. Saat yang membebaskan dan merdeka. Orang-orang akan mengambil apa yang bukan miliknya, orang-orang akan menikmati apa yang tidak bisa mereka nikmati sebelumnya, orang-orang akan banyak berbicara dengan tuhannya, dan tentu juga akan mencari teman untuk menghadapi akhir dunia. Itu artinya perusakan dan penjarahan akan sangat intens terjadi menjelang akhir dunia.
Indonesia setiap harinya diisi dengan perusakan, vandalisme, penjarahan, sampai pembunuhan. Pelakunya sudah berpikir tentang konsekuensinya, entah itu hukum, dari pihak berwenang sampai dibakar massa, entah itu terus berlari dari kejahatannya dengan menghilang dari masyarakatnya, entah juga kenikmatan yang dipetik dari kejahatannya. Bahkan terakhir kerusuhan berkepanjangan di Sumbawa yang tentu saja merembet ke sentimen etnis. Katanya Bhineka Tunggal Ika, tapi kok ya sirik-sirikan kayak gitu?
Indonesia juga dipenuhi dengan kaum yang taat beribadah dan tentunya beragama kuat. Nah, sayangnya kaum ini seperti menggilai pencitraan yang akan tertempel di setiap individu. Ketika mereka sudah melaksanakan kewajiban mingguan mereka, mereka akan merasa "aman", yang artinya justifikasi individu lain tidak akan mencitrakan mereka buruk. Itu adalah lingkungan masyarakat dimana Mustafa hidup di dalamnya. Sekarang apabila Mustafa ingin bertahan hidup di situ tentu saja Mustafa tidak bisa hanya berdiam diri di kamar dan tidak bertemu dengan siapa. Mustafa juga tidak bisa mengandalkan pertemanan social media yang sekarang dipenuhi dengan droid. Ya, akhirnya Mustafa sendiri tidak merasa bebas melakukan apa yang diinginkannya. Semuanya tergantung dengan pola manusia Indonesia berjalan. Tetapi Mustafa dengan bijaksana memakluminya, karena ini adalah hidup bersosial, yang pergerakannya dibatasi oleh hak dan kewajiban seorang manusia. Perduli setan dengan label negara dan label agama, seorang manusia adalah individu yang bebas dan tindakannya tidak terbatasi oleh label tersebut. Amin.
Jadi pak presiden SBY sudah tidak perlu kuatir menenangkan masyarakat Indonesia untuk menghadapi akhir dunia, karena kami sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah sering melakukan simulasi itu. Entah dengan ikhlas atau terpaksa.
Nah, kembali lagi ke akhir dunia yang sudah pasti diisi penjarahan, pasti banyak orang langsung menuju ke toko elektronik sekedar menjarah televisi Sony Bravia 55 inchi atau ke dealer Mitsubishi untuk mencicipi bagaimana rasanya mengendarai Outlander Sport, karena kemewahan itu mahal harganya. Hukum sudah tidak berlaku lagi, semua sudah tidak punya takut karena dalam 20 hari toh dunia akan musnah, hal-hal yang tidak terbeli dan tidak dapat dicicipi sebelumnya tentunya sudah dapat dijarah, jadi apalagi yang diinginkan untuk mempersiapkan akhir dunia?
Teman untuk menghadapi akhir dunia adalah satu hal yang tidak bisa dijarah di toko elektronik atau di dealer mobil, karena tidak ada yang namanya lapak Friend for the End of the World. Tidak perduli seberapa baik pencitraan kita, kalau tidak berani jujur pastinya tidak akan memiliki teman yang jujur juga. Teman yang jujur itu ya teman yang mau menghadapi akhir dunia bersama dengan ikhlas tanpa takut kehilangan satu sama lain. Mari kita bergandengan dan berpelukan saja.
Nb: Mustafa menulis ini dengan senyum manis membayangkan dengan siapa dia akan menghadapi akhir dunia yang terdengar keji tapi kenyataannya melegakan. Berbaring menatap mata temannya untuk meyakinkan dia bahwa semuanya akan baikbaik saja tanpa berucap satu patah katapun. Ihik..ihik..ihik..
Saturday, January 19, 2013
Monday, January 7, 2013
Homoprestisisme
Satu pagi, Mustafa dan ayahnya yang sudah tua, mengecil, dan beruban, duduk besama di depan televisi menikmati sarapan dan berita ekonomi dari layar. Tidak sering Mustafa berada di situasi ini, tetapi pagi itu semesta memberikan kesempatan pada Mustafa untuk menikmati pagi yang berbeda, dengan kopi yang diganti teh dan semangkuk mi instan.
Kebetulan sekali berita yang saat itu tersajikan tentang peningkatan penjualan mobil pabrikan Jepang sebesar 30%. Berita itu yang menggelitik Mustafa dan ayahnya. Mereka berdua sadar kalau beberapa bulan lalu, Amerika dan Eropa dilanda krisis ekonomi yang membuat warganya benar-benar mengencangkan ikat pinggang konsumerisme, sehingga orang-orang itu tidak banyak berbelanja, dan mungkin merencakan menanam roti alih-alih membeli roti dari supermarket terdekat. Tapi ternyata tidak terjadi di Indonesia. Oh, sayang, Amerika dan Eropa itu semacam jauh dari Indonesia, ya.
Sementara Amerika dan Eropa mengalami krisis ekonomi, Indonesia malah semakin jor-joran dalam berbelanja. Belanja mobil. Menurut ayah Mustafa, Indonesia tidak akan pernah mengalami krisis ekonomi, karena masyarakatnya terlalu keras kepala untuk jatuh dan tidak mampu membeli mobil. Separah apapun kondisi keuangan satu keluarga, mereka akan memaksakan diri untuk memiliki mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Makanya tidak sedikit juga yang mobil atau motor diambil kembali oleh perusahaan kredit karena kelamaan nunggak bayaran.
Selain keras kepala, masyarakatnya juga gengsi-an, ndak mau keliatan susah. Ini dia! Ayah Mustafa melihat dari semakin banyaknya restoran mewah yang bermunculan dan tentu saja selalu tampak ramai, padahal ya harganya tu, ya, ndak murah juga. Jadi ya semakin mahal suatu produk atau jasa, ya semakin dicari. Hal ini tidak hanya terjadi di bisnis restoran saja, tetapi juga terjadi di bisnis properti. Semakin mahal harga rumah, ya pasti semakin cepat terjual. Kalok bisa makan di tempat yang mahal, tinggal di tempat yang mahal, dan naik mobil, maka seseorang akan merasa lebih memiliki arti. Nah!
Tentu saja homo prestisisme itu harus hidup di dunia bersama dengan homo nerimoisme. Yang terjadi di keluarga Mustafa adalah, homo prestisisme itu pada satu titik akan mencapai klimaks yang membuatnya berubah derajat menjadi homo nerimoisme, karena sudah tidak dapat mempertahankan statusnya. Proses menjadi total homo nerimoisme pun tidak
lah singkat, masih tetap ada kerinduan untuk berada di di status sebelumnya. Tetapi itu sangat wajar, karena tekanan media dari televisi dalam rupa iklan, sinetron, dan kontes mencari bakat terus menghantuinya.
Lebih mudah bagi homo nerimoisme untuk hidup bersama dengan homo prestisisme, secara namanya juga nerimo, ya, kan, tetapi tahap awal dua status itu hidup bersama sangat menyiksa bagi kedua homo itu, masing-masing sama-sama geram dengan tingkah laku lawan homo yang keterlaluan dan menurutnya tidak masuk akal. Namun ketika mereka sudah melaluinya, maka mereka akan mengalami hidup suci yang diberkati. Amin!
Mustafa dalam hati kecilnya gemetar dan mengurungkan niatnya untuk kredit mobil.
Kebetulan sekali berita yang saat itu tersajikan tentang peningkatan penjualan mobil pabrikan Jepang sebesar 30%. Berita itu yang menggelitik Mustafa dan ayahnya. Mereka berdua sadar kalau beberapa bulan lalu, Amerika dan Eropa dilanda krisis ekonomi yang membuat warganya benar-benar mengencangkan ikat pinggang konsumerisme, sehingga orang-orang itu tidak banyak berbelanja, dan mungkin merencakan menanam roti alih-alih membeli roti dari supermarket terdekat. Tapi ternyata tidak terjadi di Indonesia. Oh, sayang, Amerika dan Eropa itu semacam jauh dari Indonesia, ya.
Sementara Amerika dan Eropa mengalami krisis ekonomi, Indonesia malah semakin jor-joran dalam berbelanja. Belanja mobil. Menurut ayah Mustafa, Indonesia tidak akan pernah mengalami krisis ekonomi, karena masyarakatnya terlalu keras kepala untuk jatuh dan tidak mampu membeli mobil. Separah apapun kondisi keuangan satu keluarga, mereka akan memaksakan diri untuk memiliki mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Makanya tidak sedikit juga yang mobil atau motor diambil kembali oleh perusahaan kredit karena kelamaan nunggak bayaran.
Selain keras kepala, masyarakatnya juga gengsi-an, ndak mau keliatan susah. Ini dia! Ayah Mustafa melihat dari semakin banyaknya restoran mewah yang bermunculan dan tentu saja selalu tampak ramai, padahal ya harganya tu, ya, ndak murah juga. Jadi ya semakin mahal suatu produk atau jasa, ya semakin dicari. Hal ini tidak hanya terjadi di bisnis restoran saja, tetapi juga terjadi di bisnis properti. Semakin mahal harga rumah, ya pasti semakin cepat terjual. Kalok bisa makan di tempat yang mahal, tinggal di tempat yang mahal, dan naik mobil, maka seseorang akan merasa lebih memiliki arti. Nah!
Tentu saja homo prestisisme itu harus hidup di dunia bersama dengan homo nerimoisme. Yang terjadi di keluarga Mustafa adalah, homo prestisisme itu pada satu titik akan mencapai klimaks yang membuatnya berubah derajat menjadi homo nerimoisme, karena sudah tidak dapat mempertahankan statusnya. Proses menjadi total homo nerimoisme pun tidak
lah singkat, masih tetap ada kerinduan untuk berada di di status sebelumnya. Tetapi itu sangat wajar, karena tekanan media dari televisi dalam rupa iklan, sinetron, dan kontes mencari bakat terus menghantuinya.
Lebih mudah bagi homo nerimoisme untuk hidup bersama dengan homo prestisisme, secara namanya juga nerimo, ya, kan, tetapi tahap awal dua status itu hidup bersama sangat menyiksa bagi kedua homo itu, masing-masing sama-sama geram dengan tingkah laku lawan homo yang keterlaluan dan menurutnya tidak masuk akal. Namun ketika mereka sudah melaluinya, maka mereka akan mengalami hidup suci yang diberkati. Amin!
Mustafa dalam hati kecilnya gemetar dan mengurungkan niatnya untuk kredit mobil.
Thursday, December 20, 2012
Puber?
Tidak akan pernah Mustafa pungkiri kalau dia terlalu sering melamar pekerjaan, karena seumur hidupnya dia tidak pernah bertahan di satu pekerjaan selama lebih dari satu tahun. 11bulan adalah masa terlamanya bekerja, saat itu di sebuah restoran vegetarian di jogjakarta. Pekerjaannya menyenangkan, tidak terlalu sulit, dalam hal pelayanan, bayarannya pun sesuai, teman kerjanya baik, atasannya juga ramah, dan Mustafa bangga bekerja di sana.
Mustafa mendapatkan semua yang dia butuhkan dalam hidup, status non-pengangguran, pemasukan bulanan yang tetap, kebutuhan pokok yang terpenuhi, dan juga teman-teman yang menyenangkan. Tetapi sayang sekali dia tidak juga merasa puas akan itu. Atau mungkin lebih patut disebut jenuh, karena pada akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan pekerjaan yang membanggakan itu.
Hal serupa terjadi lagi di dua pekerjaan berikut yang dijalaninya, kurang dari 11 bulan Mustafa merasa jenuh dan enggan untuk terus bertahan dan menjadi manusia yang loyal. Kini Mustafa kembali lagi dalam pencarian pekerjaan, walaupun atasannya yang terakhir selalu memintanya untuk kembali, tetapi Mustafa memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke Lombok, pulau yang menginspirasi Mustafa untuk membuat blog ini, karena dia sudah menemukan sesuatu untuk bertahan di kota masa pubernya, Yogyakarta.
Ya, sekarang Mustafa sudah tidak puber lagi, walaupun jerawatnya seperti sedang tumbuh, karena dia kini sudah paham dan mengerti apa yang harus dilakukannya dengan hidupnya yang 'lame', yaitu menapak ke pijakan berikutnya. Itulah Mustafa, yang kini sudah tidak puber lagi.
Thursday, December 13, 2012
no kids
Karena Mustafa memutuskan untuk melupakan masa lalunya dan melangkah lebih jauh ke depan, maka Mustafa akan menghentikan cerita tentang masa lalunya. sekian.
penuh cinta,
Mustafa
penuh cinta,
Mustafa
Friday, November 2, 2012
Gereja
Berlawanan dengan namanya yang
kearab-araban, Mustafa terlahir di keluarga kristiani yang taat dan setia akan
ajaran agama. Setiap hari minggu, alih alih duduk tenang di depan televisi di
rumahnya menyaksikan kartun Doraemon, Mustafa kecil pergi ke gereja untuk
mengikuti sekolah minggu dan beribadah di sana.
Di kota kecil Sawahlunto hanya
ada dua buah gereja, pertama gereja katholik yang bangunannya menjadi satu
dengan bangunan panjang TK/SD Santa Lucia, dan yang kedua adalah gereja HKBP
(Huria Kristen Batak Protestan). Mustafa
kecil adalah milik gereja yang kedua. Sesuai namanya, tentu saja gereja itu
dipenuhi oleh orang batak, tidak heran, karena di Sawahlunto banyak pendatang
dari Sumatera Utara. Letak gerejanya tidak terlalu jauh dari rumah Mustafa
kecil, hanya 7 menit berjalan kaki sudah sampai.
Melewati lapangan segitiga yang
persis terletak di sebrang rumah Mustafa, dia berjalan terus melewati kantor
ayahnya, sampai di jembatan dekat kantor polisi, kemudian masih terus melewati
garasi mobil kantor yang cukup suram dan besar sampai di daerah bernama Tansi
dan dibelakangnya lah gereja HKBP itu berdiri. Tansi adalah komplek rumah
tempat tinggal pegawai kantor tambang yang bangunanya lebih kecil dan lebih
rapat daripada komplek di jalan saringan tempat Mustafa bernaung. Sering kali
Mustafa diperingati oleh ayahnya untuk tidak banyak bergaul dengan anak-anak
Tansi, karena mereka yang di sana adalah anak-anak nakal. Padahal anak-anak
Tansi pun teman satu sekolah Mustafa, dan tentu saja ayah Mustafa tidak tahu
kalau anaknya, Mustafa kecil, jauh lebih nakal daripada anak-anak lain
seusianya.
Di sekolah minggu, Mustafa kecil
ditempatkan di satu ruangan kecil bersama puluhan anak kecil lainnya seusia TK
sampai SD. Di situ Mustafa kecil diajari tentang agama seperti kisah hidup para
nabi, kebaikan dan kejahatan, hukuman, pengorbanan, sampai persahabatan dengan
sesama manusia. Mustafa kecil tidak memahami itu semua, hanya satu yang
diingatnya dari sekolah minggu, yaitu gambar iblis bernuansa hitam, kuning, dan
api.
Kalau dimasukkan ke dalam seni
rupa, mungkin gambar iblis itu termasuk dalam aliran realis-absurd-apokaliptis.
Gambar itu berlatar belakang kuning seukuran A3 dengan lukisan iblis yang
sedang menggoda manusia membentuk rantai yang terus berputar. Di dalam rantai
itu latar belakangnya berwarna hitam dengan api neraka yang menyala ganas.
Wujud penggodaan iblis adalah dengan memaksa manusia minum minuman keras,
merokok, berjudi, mencuri, berbohong, sampai membunuh. Mungkin pada era itu
belum tenar yang namanya korupsi, jadi tidak ada gambar iblis yang menggoda
manusia untuk korupsi. Selain karena belum tenar, ketidak hadiran godaan untuk
korupsi bisa juga karena korupsi bukanlah godaan iblis, bisa juga karena
korupsi termasuk dalam kegiatan mencuri.
Hanya gambar itu yang memiliki
kesan paling dalam yang didapat Mustafa kecil di sekolah minggu. Sayangnya
semua peringatan yang ada di gambar itu diabaikan oleh Mustafa kecil.
Sebelum berangkat sekolah minggu,
Mustafa kecil selalu diberikan sejumlah koin oleh mamanya sebagai persembahan
pada gereja. Sesampainya di gereja, saat persembahan tiba, nakalnya Mustafa
kecil tidak memasukkan koin persembahan mamanya itu ke dalam kantong
persembahan, hanya saja tangan kecilnya tetap masuk ke dalam kantong itu untuk
mengambil uang kertas yang jumlahnya lebih banyak. Jadi saat tangan Mustafa
kecil keluar dari kantong persembahan, dalam genggamannya terselip selembar
uang lima ratusan atau jika sedang beruntung seribuan, jika sedang apes maka
yang dia dapat adalah selembar uang seratusan. Biasanya uang hasil sekolah
minggu Mustafa gunakan untuk membeli chiki sepulang sekolah minggu dan
mengoleksi hadiah "tazooz".
Tetapi tidak selamanya Mustafa
kecil melakukan itu setiap minggu, karena ada kalanya dia pamit dari rumah
untuk pergi ke gereja tetapi pada kenyataannya dia tidak ke sana. Sering kali
dia malah main ke rumah temannya di Tansi sekedar untuk menonton film doraemon
atau wiro sableng. Sungguh kecintaanya pada film benar-benar sudah tampak sejak
dirinya masih belia.
Setelah Mustafa kecil duduk di
bangku SMP pun kecintaanya pada film tidak surut, hanya semakin menjadi-jadi.
Setiap hari minggu di saat dia harus ke gereja, Mustafa kecil pamit ke gereja
tetapi naik angkot ke Mirota Kampus untuk kemudian lanjut naik bis menuju bioskop
Empire 21. Di bioskop dia akan menonton film apa saja yang ditayangkan entah
itu menarik atau tidak. Pengalaman menyaksikan film di bioskop adalah
pengalaman yang paling tidak terlupakan oleh Mustafa, sehingga saat menemukan
gedung bioskop Empire dan gedung bioskop Regen yang bersebelahan terbakar,
remuk hati Mustafa. Seperti tidak ada harapan dan tujuan, hari minggu Mustafa
kemudian diisi dengan khotbah pendeta di GKJ (Gereja Kristen Jawa) di dekat
rumahnya.
Kedua bioskop itu sepertinya
terbakar akibat ulah manusia yang tak jarang mengingkari Tuhannya, dan
terbakarnya bioskop sudah nyata-nyata bentuk teguran dari Tuhan.
Wednesday, October 31, 2012
Sekolah
Sekolah memang
sering kali menjadi momok bagi anak-anak seusia sekolah, tidak terkecuali bagi
Mustafa kecil. Santa Lucia yang terkesan horor itu sebenarnya tidak membuat
Mustafa gentar sedikitpun, dengan guru yang gemar memukul pun Mustafa tetap tidak
gentar. Hanya saja ketika Mustafa bersekolah di Santa Lucia, tentu saja dia
juga bersekolah bersama dengan kakak-kakaknya yang ternyata jenius itu.
Kedua kakak
Mustafa ternyata telah menancapkan taring mereka masing-masing di hati gurunya,
dengan kelakuan yang lebih baik dan nilai yang tidak pernah dibawah ranking 3
selalu saja membuat Mustafa merasa berada di bawah tekanan. Tetapi apalah arti
tekanan apabila dia tidak melakukan apapun untuk perubahan. Sialnya Mustafa
tidak pernah ambil pusing perihal perbandingan itu. Jadi ya seusai Mustafa
menerima raport dan nilainya tidak sebagus nilai kakaknya (seperti yang
diberitakan gurunya) Mustafa pun tidak belajar lebih giat. Hanya saja dia
selalu berkelakuan baik. Dan itu yang membuatnya bertahan di Santa Lucia.
Bagaimana
denga jenjang berikutnya?
Selepas Santa
Lucia, Mustafa pindah ke Yogyakarta, kota yang jauh lebih besar daripada
Sawahlunto. Pindah kota dan tinggal bersama kedua kakaknya dan seorang mbah
uti. Mamanya kadang di Yogyakarta selama beberapa minggu, kadang juga di
Sawahlunto selama beberapa minggu, yang jelas pada hari pertama dan kedua
Mustafa tetap diantar mamanya ke sekolah.
Bukan karena
Mustafa manja atau dimanja, tetapi memang sekolahnya jauh dari rumah. Supaya
mendapat angkutan umum, Mustafa harus berangkat dari rumah pukul 5.30 pagi,
kadang juga sudah berangkat jam segitu, angkotnya tetap saja ogah membawa
Mustafa serta karena sudah terlanjur penuh.
Kalau lancar angkot itu akan membawa Mustafa sampai di Mirota Kampus,
tempat belanja keluarga yang sangat terkenal di Yogyakarta pada saat itu -
Mustafa enggan menyebutkan tahun berapa supaya tidak diketahui berapa umurnya
sekarang - sekitar pukul 6.00 pagi. Nah, dari Mirota Kampus itu, dia akan
melanjutkan perjalanan lagi menuju SMPnya dengan bis umum. Jika beruntung dan
lancar, dia akan sampai di SMP pukul 6.30 pagi.
Di SMP pun
Mustafa duduk di meja paling depan, awalnya dia ingin serius belajar dan
memperbaiki pribadinya menjadi pribadi yang lebih pintar, ternyata itu tidak
merubah keadaan. Mustafa tetap saja mendapat ranking yang tidak pernah lebih
baik dari ranking 30, dari 40 siswa di kelasnya. Dan tiada hari-hari di SMP
dilaluinya tanpa omelan dari bapak dan ibu guru karena Mustafa terlalu banyak
melamun.
Saking
seringnya melamun, Mustafa pun mulai dianggap terlalu berbahaya oleh guru BPnya
dan kedua orangtuanya. Berbahaya bagi nilai-nilainya, dan berbahaya bagi masa
depannya. Anggapan itu membawa Mustafa pada seorang psikiater cantik di rumah
sakit Panti Rapih. Psikiater itu berharap Mustafa akan bercerita jujur padanya
tentang apa yang dirasakan Mustafa, tentu saja ada beberapa hal yang dikatakan
dengan jujur dan ada hal yang tidak jujur. Hal tidak jujur seperti ketika
ditanya apa yang dirasakan Mustafa, dan dia tidak berani berkata jujur, karena
saat itu Mustafa hanya ingin memeluk psikiater cantik itu.
Tetapi,
sebelum Mustafa dibawa ke psikiater, dia juga dibawa oleh kakak tertuanya ke
dokter THT. Karena sebagai walinya, kakak tertuanya itu mendapat laporan kalau
Mustafa sering tidak mendengarkan saat dipanggil oleh gurunya. Mustafa dianggap
memiliki pendengaran yang kurang, oleh sebab itu Mustafa dibawa ke dokter THT
dan dibersihkan telinganya. Memang budeg dan melamun itu berhubungan erat.
Apa hasil dari
kedua dokter tersebut? Tidak ada hasil yang dapat membawa Mustafa pada
perubahan menuju nilai yang lebih baik. Dia hanya semakin yakin bahwa psikiater
itu hanya sesosok yang pandai berasumsi, dokter THT hanya sesosok yang ingin
memberikan perawatan standar supaya dapat uang, dan guru adalah sosok yang
tidak ingin muridnya mendapat nilai jelek. Kalau orangtua? Orangtua adalah
sosok yang menginginkan hal yang terbaik terjadi pada anak-anaknya. Hal terbaik
itu tergantung pada orangtua masing-masing dan lingkungan.
Bagaimana
dengan SMA?
Sayang sekali,
Mustafa tidak banyak bercerita tentang masa SMAnya, tetapi di tahap ini Mustafa
kecil berada di tahap senang naik motor, mengganja, dan mabuk Topi Miring serta
lapen. Di tahap ini pula Mustafa bertemu dengan punk & skinhead.
Sulit sekali
mencari keterangan dari Mustafa di saat-saat SMA, seperti ada yang ingin
ditutup-tutupi, bahkan keluarganyapun enggan bercerita atau mungkin sudah
terlanjur melupakan masa-masa Mustafa menjadi nakal. Tetapi di tahap ini,
Mustafa menjadi semakin lihai mengambil hati guru-gurunya, sehingga tanpa
belajar keras pun, Mustafa kecil menjadi bintang kelas di SMAnya.
Itulah
Mustafa, enggan sekali belajar. Sungguh bodoh!
Saturday, October 27, 2012
Mustafa: Santa Lucia
Mustafa kecil terbangun pagi
dan tak lupa menangis. Tidak ada kesakitan atau luka maupun mimpi buruk yang
dialaminya, tetapi menjadi sebuah kewajiban bagi Mustafa kecil untuk selalu
menangis setiap kali bangun tidur. Tangisannya tak akan berhenti sebelum mbah
uti datang dan menggendongnya bangkit dari ranjang. Walaupun Mustafa menyangkal
karena dia hanya ingat sekali dia menangis saat bangun tidur, dan itupun dia
lakukan penuh dengan kesadaran, tetapi menurut pengakuan orang tuanya, tangisannya
itu berlangsung sejak Mustafa lahir sampai dia masuk sekolah di TK/SD Santa
Lucia.
Santa Lucia adalah sekolah
milik yayasan katolik satu-satunya di Sawahlunto, bangunannya menempel dengan
gereja katolik dan juga asrama untuk para katolikian
yang ingin memperdalam agama tersebut. Dengan gaya arsitektur ala belanda,
Santa Lucia dominan berwarna hijau dan putih, separuh bawah hijau laut, separuh
atas putih. Pintu gerbangnya adalah kayu kokoh yang besar seperti gerbang milik
kastil-kastil kuno di film perang elizabethian. Pilarnya hanyalah pilar
sederhana yang tidak beraksen, tetapi wujudnya sangat gemuk. Tergantung sebuah
bel sekolah yang terbuat dari besi, dan hanya penjaga sekolah atau kepala
sekolah saja yang bisa membunyikannya. Ruangan sekolahnya tidak banyak,
masing-masing tingkat ada satu kelas, ditambah dengan ruang guru dan ruang
perpustakaan (garis miring ruang agama) yang kecil. Suasana yang diusungnya
Sanata Lucia adalah gothic suram menyeramkan.
Untuk sebuah sekolah katolik,
Mustafa merasa ada banyak hantu yang bergentayangan di sekolah itu. Bau apek
dan lembab kental tersimpan dalam ingatan Mustafa. Tangga kayu yang reyot
mengantarkan Mustafa kecil ke kelas di lantai dua. Toiletnya yang terletak di
pojok tidak bisa disebut layak untuk digunakan, lantai toilet yang tidak jelas,
gelap, bau, lobang kloset yang entah kemana, mengingatkan Mustafa pada ruang
bawah tanah Lawang Sewu di Semarang. Tormented!
Belum lagi bangunan mililk gereja yang terhubung dengan sekolah oleh satu
lorong seram. Bangunan yang tampaknya asrama itu adalah bangunan besar dengan
lantai kayu, yang terdiri dari banyak ruangan kosong yang suram. Setelah
dewasa, ingatan tentang Santa Lucia selalu datang setiap dia melihat Lawang
Sewu. Santa Lucia adalah TK / SD dengan bangunan penuh penyiksaan.
Tetapi banyak kenangan yang
tersimpan di Santa Lucia. Seperti saat hari pertama Mustafa kecil menjadi murid
TK Santa Lucia. Dari rumah, Mustafa sudah memakai seragam TK yang kerahnya
sekilas tampak seperti aksen jas, lengkap dengan dasinya yang membuat Mustafa
tampak gagah. Supaya tidak perlu jajan, Mustafa juga dibekali termos yang
berisi air putih dan dikalungkannya. Diantar oleh mamanya, Mustafa diserahkan
pada guru TKnya, Ibu Ros. Seketika itu juga Mustafa jatuh cinta pada ibu Ros, begitu
pula sebaliknya.
Ibu Ros masih muda, dia
mengenakan baju putih dan rok yang Mustafa tidak ingat apa warnanya. Senyum Ibu
Ros sangat ramah dan tulus, tidak seperti senyum Mustafa yang ramah dan
menyimpan akal bulus. Wangi tubuhnya harum, rambutnya panjang, sentuhan
tangannya lembut membawa Mustafa ke dalam kelas untuk bertemu dengan rekan TK
yang lain. Mustafa didudukkan sedikit di belakang dan teringat pesan mamanya
sehari sebelum sekolah, begitu duduk di kursi kayu dia langsung melipat
tangannya diatas meja dan memperhatikan Ibu Ros. Diantara teman TK lainnya yang
terlihat hiperaktif dan ramai, Mustafa kecil lebih memilih duduk diam dan
melakukan apa yang diperintahkan oleh Ibu Ros.
Begitu selesai hari pertama,
Mustafa kecil langsung diantarkan oleh Ibu Ros kepada mamanya sambil digandeng
melewati lapak Bu Abah penjaja lontong sayur. Ibu Ros tak henti-hentinya memuji
Mustafa kecil yang anteng dan tidak macam-macam, kelakuannya dinilai santun
oleh Ibu Ros. Betapa besar hati mama Mustafa mendengar pujian itu dari mulut
guru TKnya langsung. Pada saat itu Mustafa kecil masih memilih menggandeng
tangan Ibu Ros daripada tangan mamanya sendiri, parahnya sambil menempel pada
kaki Ibu Ros, sehingga mamanya harus merebutnya dengan sedikit paksaan dan
sedikit malu.
Pada hari kedua, Mustafa kecil
kembali diantar oleh mamanya ke sekolah. Kali ini Mustafa dijadikan contoh di
tengah-tengah kelas atas sikapnya yang tenang dan tidak seagresif teman
kelasnya yang lain. Dan sekali lagi kejadian seusai kelas di hari pertama
terulang lagi, Mustafa harus ditarik paksa oleh mamanya untuk kembali ke rumah.
Tapi kejadian ini menjadi kejadian terakhir, karena keesokannya Mustafa sudah
mulai berangkat sendiri ke sekolah, hanya diantar mamanya sampai gerbang
rumahnya, setelah itu Mustafa harus sendirian melewati jembatan dengan arus
kali yang yang sangat besar, melewati SD Inpres, juga melewati Warung Pojok. Mustafa
kecil harus melewati bahaya sendirian, dengan tas ransel berisi bekal untuk
makan, mengalungi termos berisi air, dengan seragam kelasi putih biru ala Donal
Bebek. Ini seragam kegemaran Mustafa, karena dengan berpakaian kelasi dia
merasa lebih berjiwa petualang.
Hari demi hari berlalu, masa
TK Mustafa harus berakhir dan dia akan memakai seragam putih merah tidak lama lagi.
Tetapi kenyataan berkata pahit. Ternyata seusai libur panjang Mustafa harus
kembali mengenakan seragam kelasi dan seragam jas sekali lagi. Sementara teman
sekelasnya yang selalu dianggap lebih agresif sudah duduk di bangku SD. Sungguh
malu rasanya, karena Santa Lucia adalah TK segaligus SD, jadi Mustafa pun tetap
bertemu dengan teman TKnya yang kini sudah duduk di kelas 1 SD. Tentu saja Bullying tidak dapat dihindari lagi.
Mustafa sampai tidak mau bersekolah lagi meskipun sudah dibujuk oleh orangtuanya.
Tidak ada alasan lagi bagi Mustafa untuk melanjutkan sekolah, teman sekarang
sudah menjadi musuh, Ibu Ros yang dicintainya pun sudah tidak mengajar lagi.
Ingin rasanya Mustafa mengakhiri hidupnya. Untungnya dia bertemu dengan Pastor
Mario.
Pastor Mario adalah pastor
yang mungkin sedang melayani di Sawahlunto, langsung diimport dari Italia sana.
Pastor Mario sudah sangat tua, badannya besar seperti Kolonel Sandler, perutnya
besar, berjenggot putih, dan sering mengenakan kemeja putih dan celana khaki.
Pertemuan Mustafa pertama kali dengan Pastor Mario adalah saat Mustafa dibawa
paksa oleh mamanya ke Santa Lucia sambil menangis histeris karena enggan
bersekolah dan hanya kematian yang dipikirkannya. Saat bersahabat dengan
kematian itulah Mustafa dikenalkan pada Pastor Mario. Entah apa yang dijanjikan
oleh Pastor Mario, tetapi pada saat itu Mustafa langsung mengangguk untuk
kembali duduk di bangku TK, dan ternyata kehidupan di TK yang berikutnya
sungguh menyenangkan, dia semakin disayang oleh guru-gurunya dan sering kali
mendapat susu gratis lengkap dengan rotinya persembahan Pastor Mario. Nantinya
setelah Mustafa berkenalan dengan Nintendo, Pastor Mario sungguh mengingatkan
Mustafa pada tokoh Mario Bros. hanya warna rambutnya saja yang berbeda.
Mengalami hari yang berkesan
di TK, Mustafa berjanji untuk menjadi lebih giat lagi bersekolah. Mustafa
berpikir alasan teman-temannya bisa meneruskan ke bangku SD adalah karena
mereka banyak bermain, maka Mustafa mulai serius bermain, mulai dari bermain
menggambar, mewarnai, sampai bermain ayunan. Dan dengan keseriusan Mustafa
untuk bermain, setahun kemudian Mustafa diperbolehkan duduk di bangku SD.
Betapa gembira hati Mustafa kecil pada saat itu.
Mustafa pada saat itu memetik
pelajaran bahwa pada saatnya akan ada kejadian baik yang menimpa seseorang yang
percaya dan mau serius. Berusaha untuk serius bermain di bangku TK mengantarkan
Mustafa ke bangku SD yang diincarnya sejak setahun yang lalu. Sayangnya
keluguan Mustafa itu ternyata juga membahayakan Mustafa, kebiasaanya untuk
serius bermain dibawa Mustafa sampai di bangku SD, sehingga keseriusannya itu
hampir memaksa Mustafa untuk tinggal kelas. Sungguh bodoh sekali!
Subscribe to:
Posts (Atom)

